Jakarta|EGINDO.co Pergerakan pasar saham domestik memulai pekan ini dengan tekanan cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot sekitar 2 persen pada sesi pembukaan perdagangan Senin (2/3/2026), dipicu kekhawatiran investor terhadap memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka di level 8.092,90, turun dari posisi penutupan sebelumnya di 8.235,49. Tak lama setelah pembukaan, indeks bahkan sempat tertekan hingga melemah 2,04 persen ke posisi 8.067,35.
Tekanan jual terlihat cukup merata di berbagai sektor. Sebanyak 662 saham tercatat berada di zona merah, mencerminkan dominasi aksi jual di pasar. Nilai transaksi pada awal sesi mencapai sekitar Rp7,47 triliun, dengan frekuensi perdagangan yang tinggi seiring meningkatnya volatilitas.
Pelaku pasar merespons negatif eskalasi tensi geopolitik yang dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas energi global, terutama jika konflik meluas dan berdampak pada jalur distribusi minyak dunia. Kenaikan harga komoditas energi berpotensi memicu tekanan inflasi global dan mempersempit ruang kebijakan moneter sejumlah negara.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas menilai, meski tekanan jual cukup besar di awal perdagangan, potensi panic selling secara masif relatif terbatas. Risiko tersebut baru akan meningkat signifikan apabila terjadi eskalasi yang benar-benar mengganggu pasokan energi global.
“Selama konflik tidak berkembang hingga memicu disrupsi besar pada rantai pasok minyak dan gas, tekanan diperkirakan masih dalam batas wajar,” tulis riset harian perusahaan tersebut.
Secara teknikal, IHSG diproyeksikan berpeluang menguji area support di kisaran 8.100 hingga 8.150. Jika level ini mampu dipertahankan, peluang terjadinya technical rebound tetap terbuka dengan target resistance berada di rentang 8.350 sampai 8.400.
Sejumlah media internasional seperti Reuters dan Bloomberg juga melaporkan bahwa pasar keuangan global bergerak fluktuatif akibat kekhawatiran investor terhadap potensi perluasan konflik di Timur Tengah. Bursa saham di kawasan Asia pun tercatat bergerak variatif dengan kecenderungan melemah pada sesi pagi.
Pelaku pasar kini menanti perkembangan lebih lanjut dari dinamika geopolitik tersebut, sembari mencermati pergerakan harga minyak dunia serta respons kebijakan dari bank sentral global. Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan IHSG hingga terdapat kejelasan arah sentimen eksternal. (Sn)