IHSG Sempat Terkoreksi, Akhirnya Ditutup Menguat di Sesi I di Tengah Gejolak Global

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan volatilitas tinggi pada perdagangan sesi pertama, Selasa (3/3/2026). Indeks sempat dibuka menguat ke posisi 8.059,86, namun tekanan jual membuatnya tergelincir hingga menyentuh 7.971,77. Meski demikian, menjelang jeda siang, IHSG berhasil memangkas pelemahan dan ditutup di level 8.019,54.

Analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pergerakan pasar dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, pasar saham kawasan Asia bergerak variatif seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko inflasi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia, terutama karena potensi terganggunya jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz. Kenaikan harga komoditas energi ini dinilai berpotensi mendorong tekanan inflasi global serta memperbesar beban biaya produksi dan logistik.

Sejumlah media internasional seperti Reuters dan Bloomberg juga melaporkan bahwa pelaku pasar global tengah mencermati dampak konflik tersebut terhadap stabilitas pasokan energi dan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Dari sisi domestik, pasar saham Indonesia menghadapi tekanan aksi ambil untung di tengah kekhawatiran kenaikan harga minyak terhadap inflasi dalam negeri. Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan produk turunannya dinilai dapat memperbesar tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jika harga energi bertahan tinggi.

Risiko tersebut tidak hanya berpotensi memperlebar defisit fiskal, tetapi juga dapat menekan daya beli masyarakat serta laju pertumbuhan ekonomi nasional. Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan. Otoritas moneter memastikan koordinasi intensif dengan pemerintah dan pemangku kepentingan guna meredam gejolak eksternal serta menjaga momentum pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pelaku pasar kini menantikan perkembangan lanjutan situasi geopolitik dan arah kebijakan global yang berpotensi menjadi katalis pergerakan IHSG dalam jangka pendek. (Sn)

Scroll to Top