IHSG Sempat Menguat di Awal Perdagangan, Kini Kembali Tertekan Tekanan Asing

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat dibuka menguat pada awal perdagangan Jumat (17/10/2025). IHSG naik tipis ke posisi 8.132 atau menguat 0,10 persen (7 poin). Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama karena indeks kembali melemah ke zona negatif.

Kepala Riset Ritel BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai pergerakan IHSG hari ini masih cenderung fluktuatif dengan peluang koreksi lanjutan.

“IHSG berpotensi terkoreksi kembali pada hari ini,” ujarnya.

Fanny memperkirakan IHSG bergerak di rentang support 8.000–8.050 dan resistance 8.150–8.180.

Pada perdagangan Kamis (16/10), IHSG sempat mencatatkan kenaikan 0,91 persen dan ditutup di level 8.124,76. Meski demikian, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp587 miliar. Saham perbankan besar seperti BBCA dan BBRI, serta emiten energi RAJA, CDIA, dan CUAN, menjadi yang paling banyak dilepas asing.

Dari sisi pasar obligasi, Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyoroti penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang kini berada di bawah 6 persen untuk pertama kalinya sejak Januari 2021.

“Penurunan imbal hasil mencerminkan melimpahnya likuiditas di pasar keuangan domestik. Sentimen investor terhadap Indonesia juga mulai membaik,” kata Rully.

Rully menambahkan, perbaikan sentimen tersebut sejalan dengan penurunan Credit Default Swap (CDS) 5 tahun Indonesia menjadi 80,96 pada Kamis kemarin, turun dari posisi tertingginya di 82,9 pada 14 Oktober lalu. Penurunan CDS mengindikasikan risiko kredit Indonesia yang semakin menurun.

Menurut laporan Bisnis Indonesia, penurunan CDS ini turut memperkuat optimisme investor bahwa stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga meski kondisi global masih tidak pasti.

Di sisi lain, harga emas dunia terus menanjak hingga menyentuh USD4.240,4 per troi ons. Rully menjelaskan bahwa penguatan harga emas dipicu oleh meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed).

“Probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed telah mencapai 96,8 persen,” tuturnya.

Mengutip CNBC Indonesia, harga emas dunia melonjak karena pasar semakin yakin bank sentral AS akan mulai menurunkan suku bunga pada akhir tahun ini, sehingga mendorong investor beralih ke aset lindung nilai seperti emas.

Sumber: rri.co.id/Sn

Scroll to Top