IHSG Melemah di Pembukaan, Saham Big Caps Selektif Menguat di Tengah Tekanan Pasar

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Rabu (25/3/2026) di zona merah, terkoreksi 0,33% ke level 7.083,07. Pelemahan ini mencerminkan tekanan yang masih mendominasi pasar, terlihat dari jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang menguat, yakni 312 berbanding 190 saham.

Meski demikian, pergerakan tidak merata terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar. Beberapa emiten unggulan justru menunjukkan kinerja positif, dengan PT Astra International Tbk. (ASII) memimpin penguatan setelah melonjak 6,03%. Kenaikan juga diikuti oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang naik 3,61% serta PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang menguat 3,24%. Selain itu, saham seperti TPIA, BREN, dan BYAN turut mencatatkan apresiasi meskipun dalam skala yang lebih moderat.

Di sisi lain, tekanan cukup dalam dialami oleh sejumlah saham perbankan dan teknologi. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) terkoreksi signifikan sebesar 8,20%, sementara PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) melemah 4,27%. Adapun dari segmen saham lapis dua dan tiga, PT Rockfields Properti Indonesia Tbk. (ROCK) dan PT Island Concepts Indonesia Tbk. (ICON) tampil sebagai top gainers dengan kenaikan dua digit. Sebaliknya, PT Bersama Zatta Jaya Tbk. (ZATA) dan PT Nusantara Almazia Tbk. (NZIA) menjadi saham dengan pelemahan terdalam.

Dari sisi prospek, BNI Sekuritas menilai IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan dalam jangka pendek. Rentang support diperkirakan berada di kisaran 6.950–7.000, sementara level resistansi berada pada 7.170–7.300. Optimisme ini ditopang oleh aliran dana asing yang tercatat masuk ke pasar saham domestik menjelang libur panjang, serta stabilisasi sentimen global.

Sejumlah media seperti Bloomberg dan Reuters juga menyoroti bahwa dinamika pasar global masih cenderung fluktuatif. Wall Street ditutup melemah akibat kekhawatiran geopolitik, namun kondisi di kawasan Asia mulai menunjukkan perbaikan seiring meredanya tekanan inflasi dan potensi aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dengan kombinasi faktor domestik dan global tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan tetap mencermati pergerakan dana asing serta perkembangan eksternal sebagai penentu arah IHSG dalam waktu dekat. (Sn)

 

Scroll to Top