Jakarta|EGINDO.co Pasar saham Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan awal pekan. Setelah mengalami penurunan tajam sepanjang pekan sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai belum sepenuhnya keluar dari fase pelemahan akibat masih tingginya aksi jual di pasar.
Berdasarkan analisis MNC Sekuritas, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju area 5.395–5.412. Pada penutupan pekan lalu, indeks berada di level 5.594 setelah mengalami penurunan 4,20% dalam sehari. Secara mingguan, pelemahan mencapai 8,69%, menjadikannya salah satu koreksi terdalam di antara bursa saham utama dunia.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan kapitalisasi pasar turut menyusut sekitar 8,59% menjadi Rp9.807 triliun. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian pasar.
Jika dibandingkan dengan sejumlah bursa global, tekanan terhadap IHSG terlihat lebih besar. Indeks saham utama Israel dan Korea Selatan juga mengalami penurunan, namun dalam skala yang lebih kecil. Sementara itu, beberapa bursa besar lainnya seperti China, Hong Kong, dan India mencatat pelemahan yang relatif terbatas. Berbeda dengan pasar Indonesia, indeks saham Amerika Serikat masih mampu membukukan penguatan selama periode yang sama.
Untuk perdagangan jangka pendek, area support IHSG diperkirakan berada di kisaran 5.517 hingga 5.381. Adapun level resistance berada pada rentang 5.941 sampai 6.588.
Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, sejumlah saham dinilai menarik untuk dicermati. Saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) direkomendasikan untuk strategi buy on weakness dengan memanfaatkan koreksi harga sebagai peluang akumulasi. Sementara itu, PT Daaz Bara Lestari Tbk. (DAAZ) dinilai lebih cocok untuk strategi sell on strength setelah mengalami kenaikan signifikan dan berpotensi mengalami koreksi.
Sejumlah media ekonomi nasional seperti dan juga menyoroti meningkatnya volatilitas pasar saham domestik dalam beberapa waktu terakhir. Pelaku pasar diimbau untuk tetap selektif dalam memilih saham serta memperhatikan manajemen risiko di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif. (Sn)