IHSG Masih Dibayangi Tekanan, Investor Disarankan Selektif di Tengah Koreksi Pasar

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta |EGINDO.co Pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan sebelumnya. Pada penutupan Senin (8/6/2026), IHSG merosot 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07, mencerminkan tingginya aksi jual yang terjadi di berbagai sektor, khususnya saham berbasis komoditas dan pertambangan.

Pelemahan indeks dipimpin oleh penurunan sejumlah saham berkapitalisasi besar di sektor sumber daya alam. Saham milik Amman Mineral Internasional, Merdeka Copper Gold, Darma Henwa, Aneka Tambang, serta Alamtri Minerals Indonesia menjadi kontributor utama yang menyeret kinerja indeks ke zona merah.

Memasuki perdagangan Selasa (9/6/2026), sejumlah analis menilai volatilitas pasar masih cukup tinggi. Tim riset MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih berada dalam fase koreksi lanjutan dengan potensi bergerak menuju area 5.184–5.282. Sementara itu, level support diperkirakan berada di kisaran 5.261 dan 5.191, sedangkan resistance berada pada area 5.462 hingga 5.594.

Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness pada beberapa saham pilihan, yakni Astra International, Buana Listya Tama, Japfa Comfeed Indonesia, dan PAM Mineral. Strategi tersebut dinilai relevan bagi investor yang ingin memanfaatkan pelemahan harga dengan tetap memperhatikan manajemen risiko.

Pandangan serupa juga disampaikan analis dari Indo Premier Sekuritas yang menilai tren bearish masih mendominasi pasar. Investor disarankan lebih mengutamakan perlindungan modal dengan mengurangi porsi investasi pada saham-saham lapis kedua dan ketiga yang memiliki likuiditas terbatas. Selain itu, aksi rata-rata turun (averaging down) secara agresif dinilai masih berisiko sebelum muncul tanda-tanda stabilisasi nilai tukar rupiah dan konfirmasi pembentukan dasar harga (bottoming).

Sejumlah media ekonomi nasional seperti  dan juga menyoroti meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar akibat tekanan eksternal, mulai dari penguatan dolar AS hingga meningkatnya sentimen risiko global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung memilih instrumen yang lebih defensif sembari menunggu arah kebijakan moneter yang lebih jelas.

Untuk investor jangka menengah hingga panjang, saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan barang konsumsi dinilai mulai menarik untuk dicermati karena valuasinya semakin kompetitif. Namun, pelaku pasar tetap dianjurkan melakukan akumulasi secara bertahap dan disiplin dalam mengelola risiko hingga kondisi pasar menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang lebih kuat. (Sn)

Scroll to Top