IHSG Kembali ke Level 7.000 di Tengah Tekanan Rupiah, Simak Proyeksi Analis Selanjutnya

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan performa positif pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026). Indeks komposit domestik melaju 0,66% dan sukses mendarat di posisi 7.017. Gairah pasar ini tercermin dari dominasi 328 saham yang parkir di zona hijau, memberikan nafas segar bagi investor di tengah fluktuasi makroekonomi.

Meski berhasil kembali menembus level psikologis 7.000, para analis mengingatkan bahwa ruang penguatan IHSG dalam jangka pendek cenderung terbatas. Berdasarkan riset harian teranyar, pergerakan indeks diprediksi akan menguji rentang harga yang cukup ketat.

  • Support: 6.920 — 7.000

  • Resistance: 7.100 — 7.160

“Kami melihat IHSG masih berada dalam fase konsolidasi. Fokus pasar saat ini tertuju pada daya tahan indeks di atas level 7.000 sembari mengantisipasi rilis data ekonomi nasional,” ungkap tim analis dalam keterangannya, Selasa.

Laju IHSG saat ini dibayangi oleh dua faktor fundamental utama. Pertama adalah posisi nilai tukar rupiah yang kian tertekan hingga menembus angka Rp17.400 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda ini menjadi katalis negatif yang terus dipantau oleh para pelaku pasar modal.

Kedua, investor tengah bersikap wait and see menunggu pengumuman angka pertumbuhan ekonomi (GDP) Indonesia kuartal I-2026. Konsensus pasar memproyeksikan adanya pelandaian pertumbuhan dibandingkan periode sebelumnya, yang memicu sikap hati-hati di lantai bursa.

Melansir laporan dari Bloomberg Technics, penguatan IHSG hari ini sebagian besar ditopang oleh aksi beli selektif pada saham-saham perbankan big cap yang dianggap masih memiliki valuasi menarik meskipun suku bunga tetap tinggi.

Di sisi lain, mengutip data dari Reuters, pergerakan bursa regional Asia cenderung bervariasi (mixed). Sentimen dari pasar global, terutama ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dalam merespons inflasi global, turut memberikan tekanan tidak langsung terhadap arus modal asing (foreign flow) di pasar saham Indonesia.

Catatan Redaksi: Investor disarankan untuk tetap memperhatikan manajemen risiko dan melakukan diversifikasi portofolio, mengingat volatilitas nilai tukar rupiah yang masih cukup tinggi di awal kuartal kedua ini. (Sn)

Scroll to Top