IHSG Diperkirakan Stagnan Setelah Rilis Sejumlah Data Ekonomi

Pekerja di Bursa Efek Indonesia sedang mengamati indeks saham di papan informasi di gedung BEI.
Pekerja di Bursa Efek Indonesia sedang mengamati indeks saham di papan informasi di gedung BEI.

Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau di level 6.910 pada Senin (10/6/2024). Meski demikian, IHSG diperkirakan bergerak stagnan dalam perdagangan hari ini.

“Hari ini IHSG berpotensi sideways (stagnan) setelah rilis laporan data pekerjaan di Amerika Serikat lebih tinggi dari ekspektasi. Sehingga imbal hasil obligasi AS naik dan pasar memproyeksikan Fed butuh waktu lebih lama untuk memangkas suku bunganya,” kata Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman.

​Menurut Fanny, level support IHSG di rentang 6.840-6.870. Sedangkan level resist di rentang 6.900-6.950.

Sebagai perbandingan, IHSG dalam penutupan akhir pekan, turun 1,1 persen di level 6.897. Penurunan disertai net sell (jual bersih) oleh investor asing sebesar Rp991 miliar.

Baca Juga :  HSA Selidiki Wanita Jadi Buta Akibat Perawatan Dermal Filler

Penurunan IHSG sejalan dengan kondisi pasar saham global yang bergerak variatif. Bursa saham Wall Street, Amerika Serikat pada akhir pekan juga mengalami penurunan.

Data pekerjaan di AS yang lebih kuat mengindikasikan perekonomi AS yang menguat. Namun, memicu kekhawatiran bank sentral AS akan lebih lama untuk  memangkas suku bunga acuannya.

Indeks Dow Jones turun 0,22 persen, S&P 500 turun 0,11 persen dan Nasdaq Composite turun 0,23 persen. Para Investor akan kembali mengamati data ekonomi AS berupa inflasi serta hasil pertemuan The Fed pada Rabu lusa.

Bursa saham di Asia Pasifik pergerakannya beragam di akhir pekan kemarin. Indeks Nikkei 225 turun tipis 0,05 persen dan Hang Seng melemah 0,59 persen.

Baca Juga :  Resmi! Mulai Berlaku Hari Ini Aturan Terbaru Kebijakan Impor

Sedangkan indeks Shanghai naik 0,08 persen, Kospi menguat 1,23 persen dan indeks S&P/ASX 200 naik 0,49 persen. Pasar Asia juga sedang menunggu rilis data ekonomi terbaru dari Tiongkok dan Jepang.

Ekspor Tiongkok pada Mei 2024 diperkirakan naik 6 persen secara tahunan, dan impornya diperkirakan naik 4,2 persen. Jepang akan merilis angka pengeluaran rumah tangga untuk bulan April 2024, untuk melihat siklus upah dan harga.

Sumber: rri.co.id/Sn

Bagikan :