IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi, Sentimen Global dan Tekanan Big Caps Jadi Penekan

Investor mengamati pergerakan harga saham pada salah satu platform di Main Hall PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.
Investor mengamati pergerakan harga saham pada salah satu platform di Main Hall PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Jakarta|EGINDO.co Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan pada awal pekan ini. Setelah ditutup turun 0,52% ke posisi 7.594 pada Senin (20/4/2026), indeks diperkirakan belum keluar dari fase koreksi dan berpotensi bergerak turun ke area 7.245 hingga 7.527 pada perdagangan Selasa (21/4/2026).

Secara teknikal, tekanan jual yang masih dominan membuat ruang penguatan IHSG relatif terbatas. Level penopang (support) terdekat berada di kisaran 7.488 hingga 7.351, sementara batas atas (resistance) diproyeksikan di rentang 7.700 sampai 7.861. Kondisi ini mencerminkan pasar yang masih cenderung berhati-hati.

Pelemahan indeks terutama disebabkan oleh koreksi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham seperti Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) menjadi pemberat utama. Di sisi lain, beberapa saham perbankan dan konglomerasi masih mampu mencatatkan kenaikan, seperti Bank Central Asia Tbk (BBCA), Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), serta Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Dari sisi eksternal, sentimen global turut memperburuk pergerakan pasar. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz oleh Iran, mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$90 per barel. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi global dan stabilitas ekonomi.

Sejumlah media internasional seperti Reuters dan Bloomberg juga menyoroti bahwa kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik berpotensi menekan pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, karena memicu arus keluar modal asing dan meningkatkan risiko volatilitas.

Dari indikator teknikal, pergerakan IHSG menunjukkan kecenderungan melemah. Hal ini terlihat dari histogram MACD yang mulai mendatar serta stochastic RSI yang berada di area jenuh beli (overbought), menandakan potensi koreksi lanjutan masih terbuka.

Meski demikian, pelaku pasar masih dapat mencermati sejumlah saham yang dinilai memiliki peluang menarik. Beberapa di antaranya adalah Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), Bukit Asam Tbk (PTBA), Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), dan VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang masuk dalam radar rekomendasi analis.

Dengan kombinasi tekanan domestik dan global, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah, sehingga investor disarankan tetap selektif dan mencermati perkembangan sentimen pasar. (Sn)

Scroll to Top