Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan kembali bergerak positif pada perdagangan Jumat, 12 Desember 2025. Setelah terkoreksi 0,9% dan berakhir di level 8.620 pada sesi sebelumnya, indeks kini diperkirakan berada dalam rentang penyangga 8.570–8.600 dan area hambatan 8.650–8.700. Peluang pemulihan terbuka apabila tekanan jual yang mendominasi pasar mulai mereda.
Aksi jual asing masih menjadi faktor penekan utama. Investor internasional mencatatkan net sell sebesar Rp58 miliar, dengan tekanan terbesar mengarah pada saham perbankan dan emiten berbasis komoditas seperti BBRI, BBCA, ANTM, EMTK, dan AMRT. Arus keluar modal ini mencerminkan sikap defensif pelaku pasar global terhadap dinamika makroekonomi terbaru.
Dari Amerika Serikat, kebijakan pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve memberikan reaksi yang tidak seragam di Wall Street. Dow Jones dan S&P 500 menorehkan rekor tertinggi berkat meningkatnya optimisme pemulihan ekonomi. Namun Nasdaq terkoreksi, terseret aksi ambil untung di saham teknologi dan tekanan dari laporan kinerja Oracle yang tidak memenuhi ekspektasi analis.
Sementara itu, pasar saham Asia cenderung tertekan. Investor di kawasan menunggu kejelasan arah kebijakan moneter setelah The Fed menurunkan suku bunga. Hasil lelang obligasi pemerintah Jepang serta keputusan suku bunga bank sentral Filipina menjadi faktor yang turut menahan minat beli di regional.
Dengan lanskap eksternal yang masih fluktuatif, pelaku pasar domestik diharapkan lebih berhati-hati namun tetap jeli menangkap peluang. Jika IHSG mampu bertahan di area support, momentum penguatan berpotensi kembali terbentuk menuju akhir pekan. (Sn)