Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menguat pada perdagangan Kamis (9/10/2025), setelah sehari sebelumnya terkoreksi akibat aksi jual asing dan pelemahan nilai tukar rupiah. Pada penutupan Rabu (8/10/2025), rupiah melemah 0,04 persen ke posisi 8.166,03 per dolar AS, menekan pergerakan indeks domestik.
Aksi jual bersih investor asing menekan saham-saham unggulan seperti BBCA, RAJA, WIFI, BREN, dan BMRI. “Hari ini IHSG berpeluang mengalami teknical rebound dengan kisaran support di 8.050–8.120 dan resistansi di 8.200–8.250,” jelas Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.
Fanny menambahkan, penguatan bursa Wall Street memberikan sentimen positif ke pasar Asia. Indeks S&P 500 naik 0,58 persen, sedangkan Nasdaq melonjak 1,12 persen dan mencetak rekor tertinggi baru. Adapun bursa Asia Pasifik ditutup bervariasi, setelah Bank Dunia merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan.
Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menuturkan bahwa tekanan pada pasar saham domestik sebagian besar dipicu oleh net sell asing pada saham berkapitalisasi besar. “Saham BBCA mencatatkan penjualan bersih asing hingga Rp757 miliar dan turun 2,6 persen,” ungkapnya.
Selain faktor global, data ekonomi nasional turut memberikan tekanan tambahan. Harga emas dunia terus melambung hingga menembus USD4.000 per troi ons, menandakan meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai. Di sisi lain, indikator ekonomi domestik menunjukkan pelemahan. Purchasing Managers’ Index (PMI) pada September tercatat lebih rendah dibanding Agustus, dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun menjadi 115, level terendah dalam 41 bulan terakhir akibat melemahnya persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja.
Rully menilai, meski kondisi ekonomi dalam negeri masih lesu, investor mulai melakukan rotasi portofolio ke sektor yang dinilai lebih tangguh. “Minat mulai bergeser dari saham perbankan menuju energi, pertambangan, dan emiten milik konglomerat besar,” ujarnya.
Mengutip data dari Kontan.co.id, pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi oleh sentimen harga minyak dunia yang mendekati USD90 per barel. Kenaikan harga komoditas energi dinilai dapat menjadi katalis positif bagi saham-saham sektor migas dan batubara. Sementara itu, Bloomberg melaporkan bahwa arus dana asing mulai kembali ke pasar surat utang negara, yang dapat membantu menjaga stabilitas pasar keuangan Indonesia dalam jangka pendek.
Dengan dukungan faktor global yang membaik dan potensi aliran modal masuk, peluang IHSG untuk bangkit pada perdagangan hari ini terbuka cukup lebar, meskipun tekanan eksternal masih perlu diwaspadai.
Sumber: rri.co.id/Sn