Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (17/6/2026), meski pergerakannya diprediksi tidak akan terlalu agresif. Optimisme pelaku pasar didorong oleh membaiknya sentimen global setelah muncul kabar mengenai rencana perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pada perdagangan sebelumnya, Senin (15/6/2026), IHSG ditutup menguat 4,12 persen ke level 6.254,97. Penguatan tersebut menjadi salah satu kenaikan harian terbesar dalam beberapa waktu terakhir dan mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko.
Tim riset Phintraco Sekuritas menilai secara teknikal tren jangka pendek IHSG masih berada dalam jalur positif. Pergerakan indeks yang berhasil bertahan di atas rata-rata pergerakan (moving average) serta indikator MACD yang tetap menunjukkan momentum positif menjadi sinyal bahwa peluang penguatan masih terbuka. Meski demikian, investor tetap disarankan mewaspadai potensi aksi ambil untung setelah lonjakan signifikan pada perdagangan sebelumnya.
IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.150 hingga 6.400 selama sesi perdagangan hari ini.
Di sisi eksternal, rencana penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss turut meningkatkan harapan terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan harga minyak mentah dunia, dengan West Texas Intermediate (WTI) turun ke kisaran 80 dolar AS per barel dan Brent melemah ke sekitar 83 dolar AS per barel.
Menurut laporan Reuters, penurunan harga minyak dipicu oleh ekspektasi berkurangnya risiko gangguan pasokan energi global apabila ketegangan geopolitik mereda. Kondisi ini dinilai positif bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, karena berpotensi mengurangi tekanan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Sementara itu, Bloomberg melaporkan penguatan mata uang di sejumlah negara berkembang, termasuk rupiah, terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko. Rupiah tercatat menguat menjadi sekitar Rp17.709 per dolar AS, memberikan sentimen tambahan bagi pasar keuangan domestik.
Di Bursa Efek Indonesia, sektor bahan baku (basic materials) menjadi kontributor utama penguatan indeks setelah mencatat kenaikan lebih dari 7 persen. Penguatan juga terjadi pada saham-saham sektor siklikal yang dinilai akan memperoleh manfaat apabila aktivitas ekonomi global kembali meningkat dan rantai perdagangan internasional berjalan lebih lancar. (Sn)