Jakarta|EGINDO.co Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi pada perdagangan Jumat (19/6/2026), dengan kisaran 6.100 hingga 6.250. Proyeksi tersebut muncul setelah MSCI tetap menempatkan Indonesia dalam kategori emerging market, meski memberikan sejumlah catatan terkait kualitas pasar modal domestik.
Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (18/6), IHSG ditutup melemah 0,78 persen ke posisi 6.172,34. Pelemahan terjadi seiring sikap hati-hati pelaku pasar yang menanti hasil rebalancing indeks FTSE serta publikasi evaluasi tahunan MSCI terhadap aksesibilitas pasar.
Dalam laporan terbarunya, MSCI menilai Indonesia masih layak menyandang status pasar negara berkembang. Namun, lembaga penyedia indeks global tersebut menyoroti masih minimnya transparansi struktur kepemilikan saham serta adanya indikasi perdagangan terkoordinasi yang dinilai dapat memengaruhi proses pembentukan harga secara wajar. Penilaian tersebut menjadi perhatian bagi investor institusi global dalam menilai tingkat free float dan likuiditas pasar.
Di sisi domestik, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Langkah ini ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan tekanan inflasi di tengah dinamika ekonomi global.
Sementara itu, Bisnis Indonesia melaporkan bahwa keputusan MSCI mempertahankan status Indonesia dinilai mampu menjaga kepercayaan investor asing, meski reformasi tata kelola pasar masih menjadi pekerjaan rumah. Senada, Kontan menyebut pelaku pasar akan tetap mencermati arah kebijakan suku bunga, pergerakan nilai tukar rupiah, serta arus modal asing sebagai faktor utama yang memengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek. (Sn)