Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada perdagangan awal pekan, Senin (9/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik geopolitik global dan memburuknya sentimen terhadap ekonomi domestik. Pelemahan indeks bahkan sempat menembus level 4 persen pada sesi awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG turun sekitar 323 poin atau 4,27 persen ke kisaran level 7.261 pada pukul 09.05 WIB. Nilai transaksi tercatat mencapai sekitar Rp2,97 triliun dengan volume perdagangan lebih dari 6 miliar saham yang berpindah tangan dalam ratusan ribu frekuensi transaksi.
Tekanan di pasar saham domestik dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini memicu sikap risk-off di kalangan investor global, yang cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko seperti saham dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti emas dan dolar AS.
Selain itu, konflik tersebut juga mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global karena berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar, logistik, dan produksi di berbagai sektor industri. Kondisi ini pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global serta meningkatkan volatilitas di pasar keuangan.
Tekanan terhadap pasar domestik semakin bertambah setelah lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) kredit Indonesia dari “stable” menjadi “negative”. Meskipun peringkat utang Indonesia masih berada di level BBB atau investment grade, perubahan outlook tersebut dipandang sebagai sinyal meningkatnya risiko terhadap stabilitas fiskal dan arah kebijakan ekonomi dalam jangka menengah.
Sejumlah analis menilai revisi outlook tersebut memperkuat sentimen negatif di pasar karena menimbulkan kekhawatiran investor terhadap kredibilitas kebijakan fiskal serta ketahanan makroekonomi Indonesia. Jika tekanan fiskal meningkat atau cadangan devisa melemah, risiko penurunan peringkat kredit ke depan dapat semakin besar.
Kombinasi antara eskalasi konflik geopolitik, lonjakan harga minyak, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik membuat investor cenderung melakukan aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar. Kondisi ini turut menekan hampir seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia dan memicu koreksi tajam pada IHSG.
Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan konflik global, pergerakan harga komoditas energi, serta respons kebijakan pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Sentimen eksternal yang masih bergejolak diperkirakan akan tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia dalam jangka pendek. (Sn)