Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup dalam pada perdagangan sesi I, Selasa (12/5/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arus modal asing keluar dari pasar domestik. Pada penutupan sesi pertama, IHSG terkoreksi 98,49 poin atau 1,43 persen ke posisi 6.807,12 dibandingkan penutupan sebelumnya di level 6.905,62.
Pelemahan juga terjadi di pasar mata uang. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus tertekan dan sempat bergerak di kisaran Rp17.508 per dolar AS. Kondisi tersebut mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap berbagai sentimen global maupun domestik yang masih membebani aset berisiko.
Tekanan di pasar saham salah satunya dipicu hasil evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Investor mencermati potensi keluarnya sejumlah saham berkapitalisasi besar dari indeks acuan global tersebut. Kekhawatiran itu memunculkan risiko capital outflow karena sejumlah investor institusi asing biasanya menyesuaikan portofolio mengikuti komposisi indeks MSCI.
Selain faktor teknikal pasar, ketegangan geopolitik global juga menjadi perhatian utama. Konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran mendorong kenaikan harga minyak dunia. Lonjakan harga energi dinilai dapat meningkatkan tekanan inflasi global sekaligus memperbesar ketidakpastian ekonomi internasional.
Sejumlah analis menilai pasar keuangan Indonesia saat ini bergerak dalam situasi penuh tekanan eksternal. Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar beban impor energi dan menambah tekanan terhadap rupiah. Di sisi lain, investor asing cenderung mengurangi eksposur di emerging market ketika risiko global meningkat.
Media ekonomi internasional seperti Bloomberg dan Reuters juga melaporkan bahwa pasar negara berkembang di Asia mengalami volatilitas akibat meningkatnya tensi geopolitik Timur Tengah serta penguatan dolar AS dalam beberapa hari terakhir.
Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi isu perlambatan industri dan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor padat karya. Kekhawatiran terhadap melemahnya daya beli masyarakat dan perlambatan pertumbuhan ekonomi membuat investor memilih melakukan aksi jual pada saham-saham unggulan.
Saham sektor perbankan besar, komoditas, hingga teknologi tercatat menjadi penekan utama laju IHSG pada sesi perdagangan pagi hingga siang hari. Aktivitas jual investor asing juga masih mendominasi di pasar reguler.
Pelaku pasar kini menantikan respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mempertahankan kepercayaan investor di tengah tekanan global yang belum mereda. (Sn)