Catatan: Ir. Paulus Tamie, MM
Menuju sumber daya hijau Indonesia, yang hadir dalam berbagai bentuk termasuk keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem, berpotensi mendukung tujuan Pemerintah Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2029. Hal ini disampaikan pada sesi bertajuk Kebijakan dan Inisiatif untuk Mempercepat Pertumbuhan Hijau Indonesia pada Indonesia Economic Summit 2025.
Untuk itu Indonesia Economic Summit (IES) 2025 yang dibuka Arsjad Rasjid, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan mantan Wapres RI Boediono diikuti 1.500 peserta dari 48 negara dan dihadiri 350 peserta dari berbagai perusahaan termasuk Paper Excellence perwakilan yang ada di Indonesia digelar selama dua hari di Hotel Shangri-La, Jakarta, pada 18 hingga 19 Februari 2025. Seminar ekonomi akbar menghadirkan 100 pembicara yang terdiri dari pemangku kebijakan, pemimpin bisnis, pakar ekonomi, serta akademisi.

Forum IES 2025 bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antar sektor dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, berkelanjutan, dan inklusif. Berdasarkan catatan penulis pada Sesi I yakni sesinya Mari Pangestu menilai agar ekonomi Indonesia bisa tumbuh 8% perlu FDI, tetapi masih ada isu high economy cost, perlu perbaiki logistik, tingkatkan inovasi, produksi semi konduktor, ekonomi hijau, perlu ada anchor supply chain. UKM perlu dilindungi, diberdayakan, rantai pasok ditingkatkan, melek e-commerce.
Kemudian Sesi II yakni sesinya Hasyim Djojohadikusumo melihat Trump 2.0 ada ketidakpastian. Harapan Indonesia lebih besar adanya pemerintah baru presiden Prabowo Subianto, perlu meningkatkan keterampilan pekerja, perkuat ke AI.
Hasyim optimis ekonomi Indonesia tumbuh 8% lebih besar anggaran untuk peranan wanita saja bisa buat tumbuh 2%, pembangun 3 juta rumah banyak multiplier effect (185 sektor) lebih besar ekonomi tumbuh 2-2,5%.
Hilirisasi industri, pembangunan PLTA, internet connectivity, menyumbang pertumbuhan ekonomi. Pembangunan baterai EV bagi mobil2 LG, Ford,& Tesla dan Indonesia menarik karena harga listrik murah, biaya pekerja tidak tinggi, dan ada pasarnya.

Maeda melihat pembangunan PLTA di Kalimantan lokasi tepat. Hasyim melihat rasio pendapatan tax (tax ratio) Indonesia masih 3,1% dari GDP, target mau ditingkatkan jadi 4,1% seperti di Kamboja. Bila besaran ekonomi Indonesia sebesar US$ 1,5 triliun, ada shadow economy 30-35% bila ini bisa kena tax, total ekonomi bisa menjadi US$ 1,9 triliun dengan memanfaatkan AI dan hi-tech.
Tampil sebagai keynote speak Bahlil menteri ESDM Indonesia menggarisbawahi dengan Amerika Serikat keluar dari Paris Agreement, green enegy menjadi dipersimpangan jalan. Sektor minyak menurutnya bila 1997 Indonesia produksi 1,5 juta barrel per hari sedang konsumsi minyak 0,6 juta barrel per hari lebih besar Indonesia masih ekspor minyak. Katanya sekarang posisi terbalik produksi minyak 0,6 juta barrel per hari sedangkan konsumsi 1,5 juta barrel per hari.
Menurutnya Indonesia akan tingkatkan bio-diesel. Harga gas masih mahal karena Indonesia masih impor maka perlu tingkatkan produksi migas. Biaya listrik dari pembangkit Batubara paling murah, Indonesia perlu lanjutkan dengan memperbaiki limbahnya dengan teknologi CCS sehingga bisa disebut dengan batubara bersih.
Idealnya ada sistem smartgrid karena lebih besar siang hari energi dari PLTS & PLTB, malam hari pakai PLT Batubara. Masalah dana katanya Danantara diharapkan untuk hilirisasi mineral dan impian ikut investasi di hilirisasi mineral. Impian Bahlil masih dengan Revisi UU Minerba sehingga IUP bisa diberikan kepada lembaga keagamaan, BUMN/BUMD, UKM, dan Perguruan Tinggi.
Sesi SDM tampil Arini Subianto dan penelis lainnya menitikberatkan perkembangan teknologi yakni dengan perkembangan AI, keterampilan yang diperlukan pekerja berubah, tahun 2030 ada 7% perubahan pekerjaan. Indonesia perlu ekosistem pekerja berbakat, dalam pendidikan perlu dikembangan pola berfikir kritis, skor PISA Indonesia masih rendah. Policy pendidikan perlu konsisten berkelanjutan, evaluasi dan perbaiki implementasi policy yang ada, tingkatkan kompetesi para guru/pengajar, tingkatkan pemberdayaan siswa/mahasiswa maka perlu koordinasi & konsistensi, perkuat kolaborasi pemerintah, institusi pendidikan, sektor swasta, R&D masih ketinggalan maka perlu ditingkatkan.
***