Palembang|EGINDO.co Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih menghadapi tantangan akibat kondisi atmosfer yang kering. BMKG memprakirakan hujan sporadis mulai berpeluang turun pada akhir Oktober 2026, sedangkan hujan yang lebih merata diperkirakan terjadi pada pertengahan November.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengatakan puncak suhu maksimum saat ini meningkatkan potensi munculnya titik panas (hotspot). Kondisi tersebut menyulitkan upaya pemadaman melalui jalur darat, water bombing, maupun operasi modifikasi cuaca (OMC).
Angin timuran yang kuat juga memengaruhi distribusi hujan hasil modifikasi cuaca. Hujan yang diharapkan membasahi Palembang, Banyuasin, dan wilayah timur Ogan Komering Ilir (OKI) justru cenderung turun di wilayah barat dan utara Sumsel.
Sementara itu, asap karhutla dari kawasan timur hingga tenggara masih terbawa angin menuju Palembang. Meski sebagian besar kebakaran di wilayah sumber asap telah dipadamkan, sisa asap menyebabkan udara di ibu kota Sumsel terasa pekat selama empat hari terakhir.
BMKG berharap hujan merata pada pertengahan November dapat membantu menekan risiko karhutla, terutama di wilayah rawan kebakaran di sisi timur Palembang. Hingga saat itu, kondisi atmosfer yang kering masih menjadi kendala utama dalam pengendalian kebakaran dan dampak asap. (Sn)