Hilirisasi Nikel RI: Lepas dari Baja, Berpacu Menuju Baterai EV

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Indonesia terus berupaya memperkuat fondasi hilirisasi nikel nasional. Meski telah berhasil melepaskan diri dari ketergantungan pada produk olahan tingkat awal seperti nickel pig iron (NPI) dan ferronickel, industri nikel domestik kini menghadapi pekerjaan rumah baru: mengoptimalkan nilai tambah menuju rantai produksi material baterai tingkat lanjut.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengungkapkan dalam acara Sosialisasi MediaMIND 2026 di Jakarta pada Senin (14/9/2026) bahwa industri nikel saat ini masih sangat didominasi oleh sektor baja nirkarat (stainless steel) yang menyerap sekitar 71% pemanfaatan nikel domestik. Sementara itu, porsi untuk industri baterai baru mencatatkan angka sekitar 3%.

“Makin ke sini hilirisasi nikel sudah sampai baterai. Namun, tantangan ke depan bukan lagi sekadar meningkatkan volume pengolahan, melainkan mendorong industri menuju produk dengan nilai tambah (high value-added) dan tingkat teknologi yang lebih tinggi,” ujar Faisal.

Komitmen Proyek Terintegrasi PT Vale Indonesia

Menjawab tantangan tersebut, pelaku industri seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mulai mendorong pengolahan nikel dari bijih hingga produk antara yang siap menjadi bahan baku baterai. Head of Strategy and Business Development INCO, Mateus Sigit Hari Sulistya, menegaskan hilirisasi tidak boleh berhenti pada produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) melalui teknologi high pressure acid leach (HPAL).

“Ini merupakan integrated value chain, dari resource, reserve, mining, processing, MHP, kemudian precursor atau PCAM, setelah itu CAM, sebelum diproduksi menjadi battery material,” jelas Sigit.

Untuk mendukung transformasi menjadi multisite growth platform, PT Vale Indonesia tengah mengembangkan tiga proyek hilirisasi terintegrasi di Sulawesi dengan total investasi mencapai US$7,2 miliar:

  1. IGP Morowali (Sulawesi Tengah): Investasi sebesar US$1,9 miliar bekerja sama dengan GEIM dan EcoPro. Ditargetkan mencapai first mechanical completion akhir 2026 dan full mechanical completion pada kuartal I/2027.

  2. IGP Pomalaa (Sulawesi Tenggara): Proyek paling maju dengan investasi US$3,2 miliar menggandeng Huayou dan Ford. Ditargetkan menguji autoclave pada kuartal III atau IV/2026 dan beroperasi penuh awal 2027.

  3. IGP Sorowako (Sulawesi Selatan): Investasi bernilai US$2,1 miliar dengan menggandeng Huayou untuk pengembangan fasilitas HPAL.

Peluang Nikel di Tengah Tren Baterai Global

Di tengah populernya teknologi lithium iron phosphate (LFP), Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya F. Arif, optimistis bahwa nikel masih memiliki prospek cerah dalam pengembangan baterai generasi berikutnya.

Menurut Aditya, teknologi nickel manganese cobalt (NMC) dengan kadar nikel lebih tinggi (seperti NMC 811 dan NMC 955) serta single-crystal NMC menawarkan energy density tinggi, kemampuan pengisian cepat (rapid charging), dan daya simpan energi lebih besar untuk kendaraan listrik. Selain itu, teknologi masa depan seperti solid-state battery juga membuka peluang besar bagi penggunaan kimia berbasis nikel.

Di sisi lain, perkembangan sodium-ion battery dinilai menjadi peluang untuk kebutuhan battery energy storage system (BESS) yang diproyeksikan tumbuh pesat.

Meski demikian, IBC mengingatkan pentingnya menjaga daya saing harga nikel nasional. Indonesia dituntut untuk tidak sekadar menjadi pemasok bahan baku, tetapi harus terlibat aktif dalam inovasi teknologi baterai global agar mineral domestik tetap relevan.

“Kalau kita ingin menjalankan story nikel, maka kita tetap harus membuat ini lebih kompetitif melalui inovasi,” tegas Aditya. (Sn)

Scroll to Top