Jakarta | EGINDO.com – Titik temu antara konservasi, kebijaksanaan lokal, dan tindakan nyata untuk keberlanjutan. Kabut pagi menyelimuti kawasan PT Wirakarya Sakti (WKS) Distrik VIII saat tim kecil berangkat untuk melakukan patroli di Koridor Satwa Liar Datuk Gedang.
Kelompok tersebut dipimpin oleh Nurfajri Indra dari Forum PKBT, dan di belakangnya mengikuti Sanderson Yohanes Siagian, Petugas Kepatuhan Lingkungan WKS, serta beberapa perwakilan dari perusahaan mitra. Patroli bersama merupakan kegiatan bulanan yang diselenggarakan Platform Kolaborasi Bukit Tigapuluh (PKBT), forum diskusi multistakeholder yang didirikan pada 2018 sebagai upaya untuk menyelamatkan kawasan hutan dan meningkatkan standar hidup masyarakat di sekitar Bukit Tigapuluh.
Adapun misinyajelas, melindungi zona penyangga yang merupakan tautan vital dalam koridor gajah Sumatra dari penebangan liar, perambahan lahan, dan kebakaran hutan, serta memperkuat coexistence dengan gajah.
Menurut Prihandini Tria Okta Viani, Spesialis Pelibatan Pemangku Kepentingan PKBT hal itu adalah upaya bersama untuk memastikan manfaat konservasi dirasakan oleh semua dengan pengambilan keputusan yang inklusif dan suara lokal tetap menjadi inti dari setiap langkah. “Kolaborasi ini penting, tetapi tidak tanpa tantangan,” katanya.
Tim patroli bergerak secara sistematis melalui jalur hutan. Di beberapa kios komunitas yang terletak dekat koridor satwa liar, mereka berhenti untuk berbincang dengan warga setempat, membagikan brosur, dan memasang poster berjudul Hidup Berdampingan dengan Gajah.
Prihandini menjelaskan tujuan yang lebih mendalam dari Forum tersebut. “Patrol ini merupakan bagian dari visi jangka panjang,” jelasnya. “Kami tidak hanya mencegah aktivitas ilegal kami juga membangun kepercayaan, menegakkan kerukunan, dan menciptakan ruang dialog antara pemangku kepentingan, termasuk komunitas Orang Rimba dan Talang Mamak,” katanya.
Dijelaskannya patroli juga dilakukan dengan koordinasi dari unit pengelolaan hutan lokal dan didukung oleh otoritas konservasi regional, memastikan keselarasan dengan tujuan konservasi nasional.
Sementara itu Syamsuardi, seorang ahli mitigasi konflik gajah berpengalaman dari Forum Konservasi Gajah Indonesia, menyoroti urgensi tersebut. Katanya hampir 70% habitat gajah berada di luar zona konservasi. Kemudian dia memperingatkan menanam tanaman seperti pisang, karet, atau tanaman yang disukai gajah di sepanjang jalur tradisional mereka tentu sangat berisiko dan akan menyebabkan konflik terus berlanjut. “Kita harus mengubah pendekatan kita,” katanya mengingatkan.
Taufik Qurochman dari WKS setuju bahwa membutuhkan tanaman jangka panjang yang memerlukan perawatan minimal, tidak menarik gajah, namun tetap memberikan penghasilan. Itulah peran PKBT menghubungkan konservasi dengan bisnis berkelanjutan.
Kemudian Taufik menambahkan bahwa gajah mungkin tidak mistis, tetapi emosi mendalam dan memori generasional mereka mengarahkan mereka ke area ekotone, di mana transisi ekologi mencerminkan pola perilaku mereka, membuat mereka tampak jauh namun secara inheren terhubung dengan lanskap manusia.
Jasmine Natalia Prihartini Doloksaribu dari APP Group memaparkan visi yang lebih luas. Konservasi harus bekerja sama dengan bisnis, bukan melawan bisnis. Itulah cara kita melindungi habitat multi-spesies dengan menyelaraskan keberlanjutan dengan penciptaan nilai.
Forum PKBT adalah jembatan yang menghubungkan kebijaksanaan lokal, kerangka hukum, dan tanggung jawab korporasi. Kedepannya, PKBT berencana untuk memperkuat perannya sebagai model tata kelola hutan inklusif dimana masyarakat sipil, dunia usaha, dan pemerintah bekerja sama menciptakan solusi yang memelihara ekosistem dan memberikan manfaat bagi semua pihak.@
Bs/timEGINDO.com