Kuala Lumpur | EGINDO.co – Hidrokarbon akan terus menjadi bagian penting dari bauran energi di Asia Tenggara, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan pada hari Senin (26 Juni), karena keterjangkauan dan keamanan energi masih menjadi masalah utama bagi kawasan berpenduduk lebih dari setengah miliar orang ini.
Pencapaian target emisi nol nol seharusnya tidak mengorbankan “pertumbuhan ekonomi atau sebaliknya”, kata Anwar dalam pembukaan konferensi perdana Energy Asia, yang diselenggarakan oleh perusahaan minyak negara Malaysia, Petronas.
“Sebaliknya, Asia harus mengambil setiap kesempatan untuk berdialog lebih lanjut dan melakukan tindakan tentang bagaimana kita dapat merencanakan secara bertanggung jawab untuk memungkinkan setiap negara (dalam) haknya atas pembangunan dan aspirasi karbon yang lebih rendah,” katanya.
Asia merupakan rumah bagi beberapa penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia dan negara-negara di kawasan ini telah membuat berbagai komitmen untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan mempercepat transisi energi, serta menuntut dukungan finansial yang memadai dari negara-negara maju.
Anwar mengatakan bahwa gas alam akan memainkan peran penting dalam bauran energi untuk Malaysia, yang merupakan salah satu dari lima eksportir LNG terbesar di dunia.
Pemerintah akan meluncurkan dua peta jalan pada paruh kedua tahun ini yang merinci potensi negara ini untuk mengembangkan bahan bakar hidrogen dan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon.
Para ilmuwan mengatakan bahwa meskipun mengembangkan teknologi baru adalah kunci, mengurangi emisi masih sangat penting untuk menjaga dunia agar tidak memanas lebih dari 1,5 derajat Celcius dibandingkan era pra-industri.
Malaysia juga berkomitmen untuk bergabung dengan janji global untuk mengurangi emisi metana sebesar 30 persen pada tahun 2030, dibandingkan dengan tingkat emisi pada tahun 2020, tambahnya.
Para pemimpin dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) dan para CEO dari Saudi Aramco, TotalEnergies dan Vitol menghadiri konferensi di Kuala Lumpur.
Acara ini mempertemukan para pemimpin energi global, perusahaan dan pembuat kebijakan untuk mendiskusikan transisi energi di kawasan ini.
Sumber : CNA/SL