Los Angeles, CA | EGINDO.co – Hawaii menetapkan status darurat pada hari Kamis (14 Agustus) saat bersiap menghadapi Badai Tropis Lala, yang berpotensi membawa angin kencang, banjir, dan tanah longsor pada akhir pekan ini.
Menurut Layanan Cuaca Nasional (NWS), badai dari Pasifik ini sedang menguat dan diperkirakan akan berkembang menjadi badai (hurricane) saat mendekati Big Island di negara bagian AS tersebut.
Kecepatan angin tercatat sekitar 80 km/jam, dengan embusan yang lebih kencang.
Badai ini berpotensi menyebabkan curah hujan hingga 63,5 cm di beberapa wilayah Big Island, tambah layanan cuaca tersebut.
Gubernur Josh Green menetapkan status darurat sebagai respons terhadap ancaman ini; sebuah langkah administratif yang memungkinkan pengerahan dana, sumber daya, dan personel jika terjadi kerusakan.
“Badai Tropis Lala menimbulkan ancaman serius bagi negara bagian kita, khususnya Pulau Hawaii—dan kami mengambil tindakan sekarang untuk memastikan ketersediaan sumber daya di lokasi yang membutuhkannya,” ujarnya.
“Saya mengimbau semua orang untuk mengamankan rumah, mengumpulkan kebutuhan pokok, meninjau rencana darurat keluarga, dan memantau informasi terkini dari sumber resmi yang tepercaya. Mohon sikapi badai ini dengan serius dan saling menjaga satu sama lain,” tambahnya.
Dengan populasi 210.000 jiwa, Pulau Hawaii merupakan pulau terpadat kedua di kepulauan tersebut, jauh di bawah Oahu yang dihuni oleh lebih dari satu juta orang.
Jalur pergerakan badai masih belum dapat dipastikan, namun diperkirakan badai akan tetap berada di lepas pantai.
Badai tropis terakhir yang menghantam langsung kepulauan tersebut terjadi pada tahun 2018.
El Nino, fenomena cuaca yang sangat kuat tahun ini, menyebabkan pemanasan di wilayah khatulistiwa Pasifik dan meningkatkan kemungkinan terbentuknya siklon. Para ahli meteorologi memperkirakan musim badai yang jauh lebih aktif dari biasanya di wilayah tersebut.
Para ilmuwan secara rutin memperingatkan bahwa perubahan iklim, yang disebabkan oleh aktivitas manusia dalam membakar bahan bakar fosil, meningkatkan frekuensi dan intensitas peristiwa cuaca ekstrem.
Sumber : CNA/SL