Hashim Soroti Lonjakan PE Saham, Valuasi Anomali Masuk Radar Pengawasan

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, menyoroti tingginya rasio price to earnings (PE) sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mencapai ratusan hingga ribuan kali. Ia menilai kondisi tersebut sebagai kejanggalan valuasi atau red flag yang patut diwaspadai investor maupun regulator pasar modal.

Hashim berpandangan, lonjakan rasio PE pada level tidak lazim mencerminkan harga saham yang sudah terlalu mahal dibandingkan kemampuan emiten dalam mencetak laba bersih. Situasi itu, menurutnya, berpotensi berkaitan dengan aspek transparansi dan kualitas fundamental perusahaan yang perlu dicermati lebih dalam.

Mengacu data Terminal Bloomberg per 11 Februari 2026, terdapat setidaknya 76 emiten di BEI yang mencatatkan rasio PE di kisaran ratusan hingga ribuan kali. Beberapa saham dengan valuasi ekstrem antara lain:

  • PT Golden Flower Tbk. (POLU) dengan PE sekitar 1.636 kali pada harga Rp19.900 per saham.

  • PT Surya Semesta Indonusa Tbk. (SSIA) membukukan PE 562,99 kali di level Rp1.520 per saham.

  • PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) memiliki PE 459,81 kali dengan harga Rp225.325 per saham, sekaligus menjadi saham dengan harga termahal di BEI.

  • PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) mencatatkan PE 446,17 kali dan termasuk emiten berkapitalisasi pasar besar.

  • PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN) memiliki PE 516,82 kali; perusahaan ini terafiliasi dengan Arsari Group melalui kepemilikan saham oleh PT Arsari Nusa Investama.

Dalam forum Asean Climate Forum (ACF) 2026 di Jakarta, Hashim mengungkapkan dirinya menemukan sejumlah emiten dengan rasio PE 167 kali, 900 kali, 1.200 kali, bahkan menembus 4.000 kali. Ia menilai angka tersebut tidak mencerminkan valuasi yang sehat.

Pemerintah, lanjutnya, akan meningkatkan pengawasan terhadap dinamika pasar modal guna menjaga stabilitas dan melindungi investor. Ia menekankan bahwa pasar yang kredibel hanya dapat terwujud apabila didukung keterbukaan informasi dan kepercayaan publik.

Sejumlah media ekonomi nasional seperti Bisnis Indonesia dan Kontan juga menyoroti fenomena lonjakan valuasi ini. Keduanya mencatat bahwa saham dengan PE sangat tinggi umumnya dipengaruhi ekspektasi pertumbuhan agresif, likuiditas terbatas, maupun faktor spekulatif jangka pendek—sehingga investor disarankan tetap mengedepankan analisis fundamental sebelum mengambil keputusan investasi. (Sn)

Scroll to Top