Hari Pangan Sedunia, Air Adalah Makanan, Jangan Tinggalkan

Hasnil Aflah,  S.Sos.,M.I.Kom
Hasnil Aflah, S.Sos.,M.I.Kom

Oleh: Hasnil Aflah,  S.Sos.,M.I.Kom

Hari pangan sedunia ini diperingati setiap tanggal 16  Oktober. Di tahun 2023 ini hari pangan mengusung tema “Air adalah kehidupan, air adalah makanan, jangan tinggalkan siapapun”. Tema tersebut dipilih agar seluruh dunia tahu betapa pentingnya air bagi produksi pangan .

Tanpa air aktifitas kehidupan di bumi pun tidak akan berjalan dengan baik. Apalagi di dalam tubuh  manusia yang 70% tubuhnya mengandung air. Air merupakan salah satu unsur penyusun tubuh manusia.  Air menjadi hal yang penting untuk keberlangsungan hidup. Tidak tercukupinya kebutuhan air sehari – hari dalam tubuh dan kehidupan maka  bisa jadi  akan membuat tubuh mengalami gangguan.

Selain daripada  itu air sangat  membantu menjaga kelembaban udara dan tanah, serta membantu menjaga suhu yang seimbang. Dengan keseimbangan lingkungan yang baik maka  air sangat penting untuk kehidupan semua makhluk hidup.

Terkait dengan hari pangan yang bertema tentang air maka dalam agama Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Az-Zumar: 21 yang artinya, “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”

Baca Juga :  Airlangga: Ekonomi Superbike Capai Rp500 Miliar per Event

Air merupakan kunci kehidupan, maka tidak mengherankan pentingnya keberadaan air bersih dalam kehidupan dan pastinya dalam lingkungan. Agama saja sudah tegas menyampaikan bahwa begitu bermanfaatnya air  buat makhluk hidup untuk kelangsungan dan keseimbangan hidup dan pastinya keseimbangan bumi.

Salah satu dampak yang akan muncul  dari krisis lingkungan ini adalah krisis air. Air sebagai sumber penghidupan namun juga bisa menjadi pembawa bencana. Air tidak hanya sangat bermanfaat air juga bisa menjadi bencana buat lingkungan hidup. Air bisa berdampak krisis lingkungan hidup yang selama ini kita alami. Oleh sebab itu pastinya setiap  negara sangat khawatir dengan krisis lingkungan, apatah lagi negara kita  ini,   Indonesia.  Krisis lingkungan tidak hanya dapat merusak tatanan  perekonomian masyarakat baik kecil maupun menengah keatas , namun bisa  juga  memicu krisis makhluk hidup di muka bumi ini serta wabah penyakit.

Baca Juga :  APDESI Menyatakan Ada Pihak Lain Yang Menyalah Gunakan Nama

Dampak krisis lingkungan yang berasal dari air akan mengakibatkan bencana tanah longsor juga banjir. Kedua bencana tersebut  adalah  jenis bencana yang kini hampir terjadi merata tidak hanya di negara kita  tapi mendunia. Hal ini diakibatkan dengan tidak seimbangnya pemanfaatan sumber daya alam. Akibat banjir banyak masyarakat yang terseret air  sehingga masyarakat harus kehilangan keluarganya untuk selamanya , belum lagi  perekonomian lumpuh, dan krisis sosial merajalela, serta   penyakit pun menyerang.

Tidak menjaga kestabilan alam seperti penggundulan hutan, pembuangan sampah yang tidak bisa terurai ke aliran air seperti di sungai dan selokan – selokan di kawasan penduduk mengakibatkan tumpukan sampah dan aliran air tidak berjalan dengan baik. Disamping itu kekeringan juga menjadi penyebab akibat faktor ulah manusia.

Baca Juga :  Dam Dihancurkan Menahan Rusia, Sebagian Desa Masih Banjir

Kesimpulan

Berbagai bencana alam berupa kerusakan di darat dan di laut merupakan bagian akibat  dari kejahatan prilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Banjir, kekeringan, gunung meletus, badai, semua itu bukan hanya faktor bencana alam, tapi juga akibat dari kejahilan tangan-tangan manusia.

Lingkungan tempat kita tinggal tidak sepatutnya dirusak, alam tidak seharusnya digerus habis-habisan tanpa upaya pelestarian. Jika tak berhenti  tangan-tangan jahil manusia yang tak memiliki rasa bersyukur atas nikmat hidup yang Allah berikan  maka semesta yang terlihat diam , tenang dan damai  pun akhirnya akan bertindak dengan izin Tuhannya dengan datangnya banjir dan longsor, yang seolah menunjukkan akibat dari hubungan buruk manusia terhadap alam, sang Pencipta.

***

Penulis adalah anggota pimpinan Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Medan dan aktivis lingkungan hidup

Bagikan :