Hari Ini, Rupiah dan IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Pergerakan rupiah berpeluang melanjutkan penguatan hari ini. Peluang yang sama juga ada pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada Senin kemarin, rupiah ditutup menguat 0,09 persen atau 15 poin. Rupiah pun berada level Rp15.810 per dolar AS.

“Rupiah kelihatannya masih berkonsolidasi di kisaran 15.800 hari ini terhadap dollar AS. Ada peluang penguatan rupiah tapi mungkin tidak besar,” kata Analis Pasar Uang Ariston Tjendra, Selasa (30/1/2024).

Ariston menambahkan, pelaku pasar masih mewaspadai hasil pertemuan the Fed di Kamis dini hari nanti. Pagi ini Indeks dolar AS terlihat bergerak sedikit melemah 103,4 dibandingkan pagi sebelumnya 103,6.

“Ada ekspektasi berkembang di pasar bahwa pernyataan the Fed mungkin akan lebih dovish (melunak). The Fed diperkirakan sudah menghilangkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan tahun ini,” ucapnya.

Baca Juga :  BRGM - KLHK Sepakati Mekanisme Keamanan Data Geospasial

​Di sisi lain, tambah Ariston ketegangan geopolitik global masih membayangi pergerakan pasar keuangan. Konflik yang setiap saat memanas bisa mendorong pelaku pasar masuk kembali ke aset aman di dolar AS dan emas.

“Potensi penguatan rupiah ke kisaran support Rp15.800. Sedangkan potensi pelemahan ke kisaran Rp15.850 per dolar AS hari ini,” ujar Ariston.

Untuk bursa saham, IHSG juga diproyeksikan melanjutkan penguatannya hari ini. Dalam penutupan perdagangan hari Senin kemarin, IHSG naik 20,08 poin atau 0,28 persen ke level 7.157.

Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas Fanny Suherman mengatakan, kenaikan IHSG disertai dengan net buy (aksi beli) asing sebesar Rp242 miliar. Saham yang paling banyak dibeli asing adalah BBCA, BBRI, AMMN, BRIS, dan TPIA.

Baca Juga :  Filipina kerahkan kekuatan asing menimbulkan masalah di LCS

“Hari ini IHSG berpotensi bergerak menguat kembali. Level resistance IHSG di posisi 7.180-7.225 dan level support 7.100-7.135,” kata Fanny.

Ia juga menyatakan, sikap pelaku pasar di bursa global masih wait and see, atau menunggu data-data ekonomi terbaru. Di AS, para investor menantikan kebijakan The Fed setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), dua hari ini.

Di Asia Pasifik, investor memantau rilis angka aktivitas pabrik Tiongkok periode Januari, dan inflasi triwulan IV-2023 di Australia. Data-data ekonomi tersebut akan mempengaruhi pergerakan indeks saham dan mata uang lainnya terhadap dolar AS.

Sumber: rri.co.id/Sn

Bagikan :