Hari Ini, Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berisiko melemah mendekati level Rp16.000 akibat lonjakan ekonomi AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berisiko melemah mendekati level Rp16.000 akibat lonjakan ekonomi AS.

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berisiko melemah mendekati level Rp16.000 pada hari ini, Jumat (27/10/2023) akibat kuatnya data ekonomi AS.

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat melesat pada kuartal III/2023 dengan laju tercepat sejak kuartal IV/2021.

Berdasarkan data pemerintah AS yang dirilis Kamis, (26/10/2023), produk domestik bruto (PDB) AS meningkat 4,9% pada kuartal III/2023 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Pertumbuhan PDB ini berada di atas proyeksi pasar yang memperkirakan PDB tumbuh 4,3% dan jauh lebih tinggi dari pertumbuhan PDB kuartal II/2023 sebesar 2,1%.

Melesatnya ekonomi AS mengindikasikan The Fed akan kembali mengerek suku bunga acuan.

Sebelumnya rupiah ditutup melemah 49,50 poin atau 0,31% menuju level Rp15.919 per dolar AS pada Kamis (26/10/2023. )Adapun indeks dolar AS menguat 0,20% ke 106,73.

Baca Juga :  BMKG: Hari Ini Jabodetabek Hujan, Petir Dan Angin Kencang

Mata uang lain di kawasan Asia juga mayoritas melemah. Won Korea, semisal, melemah 0,77%, yuan China melemah 0,02%, dan Yen Jepang turun 0,14%.

Selanjutnya, dolar Singapura turun 0,05%, ringgit Malaysia melemah 0,16%, dan peso Filipina turun 0,19%.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa kekhawatiran terhadap meluasnya potensi eskalasi perang Israel-Hamas terus terjadi.

Selain itu, suku bunga AS yang lebih tinggi mendorong kenaikan dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. “Tanda-tanda kekuatan ekonomi AS diperkirakan meningkatkan selera risiko, hal ini juga akan memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim dalam riset yang dipublikasikan Kamis (26/10/2023).

Baca Juga :  KPK Eksekusi Wawan Dan Undang Ke Lapas Sukamiskin

Menurutnya, bank sentral AS akan mempertahankan suku bunganya pada pertemuan pekan depan. Namun, para pejabat The Fed tetap membuka peluang untuk setidaknya menaikkan satu kali lagi suku bunganya pada tahun ini.

Langkah tersebut memberikan isyarat bahwa suku bunga akan tetap lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama di tengah tingginya inflasi AS dan kuatnya perekonomian.

Dari sentimen dalam negeri, para pelaku pasar dinilai tetap memonitor perang yang terjadi antara Israel-Hamas. Ibrahim menuturkan bahwa dampak perang mulai merembes ke harga minyak dunia yang saat ini terus merangkak naik.

“Risiko dan ketidakpastian global semakin meningkat. Hal ini dapat memberikan dampak rambatan atau spill over ke dalam negeri yang bisa mempengaruhi nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi,” tutur Ibrahim.

Baca Juga :  Filipina Bergabung Dalam Patroli Udara AS Melindungi Wilayah

Pada 2022, harga minyak melonjak US$128 per barel dari US$60-US$70 per barel akibat dampak dari perang Rusia-Ukraina. Saat ini, harga minyak yang sebelumnya sudah menurun, kembali melonjak ke posisi US$90 per barel.

“Dengan adanya perang di Palestina, yang merupakan zona middle east adalah zona produksi minyak minyak dan gas terbesar dunia, gejolaknya sudah mulai terefleksi,” pungkasnya.

Selain itu, pergerakan harga gas juga masih minus 29,6% secara year-to-date (YtD) dan batu bara turun hingga 63,6%.

Hal ini pun mempengaruhi APBN karena batu bara berkontribusi terhadap PNBP bahkan bea keluar jika diterapkan.

Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (27/10/2023) akan bergerak fluktuatif tetapi ditutup melemah di rentang Rp15.910 hingga Rp15.970 per dolar AS.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Bagikan :