Hari Ini, Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Mata uang rupiah berisiko melemah terbatas pada Selasa (5/3/2024) seiring dengan masih kokohnya dolar AS.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi  memprediksi pada Selasa (5/3/2024) mata uang rupiah fluktuatif tetapi ditutup melemah direntang  Rp15.730-Rp15.790 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mengakhiri perdagangan Senin (4/3/2024) dengan penurunan 0,24% ke posisi Rp15.742 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,05% ke level 103,760.

Sejumlah mata uang kawasan Asia lainnya bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,13% dan yuan China turun 0,03%.

Sementara itu mata uang yang berhasil menguat adalah dolar Singapura naik 0,07%, dolar Taiwan naik 0,28%, won Korea naik 0,28%, peso Filipina menguat 0,07%, rupee India naik 0,01%, ringgit Malaysia menguat 0,35% dan baht Thailand naik 0,15%.

Baca Juga :  Hari Ini Naik Lagi Covid-19, Bertambah 61.488 Kasus

Ibrahim Assuaibi menjelaskan meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik Israel-Hamas dan serangan Houthi terhadap pelayaran Laut Merah membuat kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global akan meredup.

Dalam beberapa komentar paling keras yang dilontarkan pemimpin senior AS, Wakil Presiden AS Kamala Harris pada Minggu menuntut kelompok militan Palestina Hamas menyetujui gencatan senjata segera selama enam minggu sambil dengan tegas mendesak Israel berbuat lebih banyak guna meningkatkan pengiriman bantuan ke Gaza.

Fokus minggu ini juga tertuju pada data nonfarm payrolls untuk bulan Februari, yang akan dirilis pada hari Jumat, mengingat kekuatan pasar tenaga kerja juga merupakan salah satu pertimbangan utama The Fed untuk menyesuaikan suku bunga.

Baca Juga :  Krisis Rusia Ungkapkan Keretakan Nyata Dalam Kekuasaan Putin

Selain itu, para pedagang menghindari taruhan besar menjelang Kongres Rakyat Nasional tahun 2024. Beijing diperkirakan akan meluncurkan lebih banyak langkah stimulus untuk mendukung pemulihan ekonomi yang melambat, terutama ketika negara tersebut bergulat dengan krisis pasar properti dan tren deflasi yang memburuk.

Kemudian, sentimen dalam negeri adalah Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Februari menyentuh skor 52,7, turun dari 52,9 pada Januari. Meski begitu, PMI Manufaktur tersebut masih tergolong ekspansif. Berdasarkan indeks  S&P Global, skor PMI Manufaktur itu didukung produksi manufaktur yang cenderung naik pada Februari.

“Selain itu, tingkat pertumbuhan juga cenderung solid, meski mengalami penurunan dari Januari,” kata Ibrahim dalam riset harian, Senin (4/3/2024).

Baca Juga :  Hari Ini, Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG

Secara umum, sentimen di antara perusahaan manufaktur Indonesia pada Februari membaik, sejalan dengan indikator-indikator yang mengarah pada masa depan seperti pesanan baru, menunjukkan bahwa keluaran akan terus berkembang dalam jangka pendek.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Bagikan :