Hari Ini, Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini diprediksi masih cenderung tertekan karena ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada kuartal I/2024 memudar.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini diprediksi masih cenderung tertekan karena ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada kuartal I/2024 memudar.

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih cenderung tertekan pada Kamis (25/12/2023) karena ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada kuartal I/2024 memudar.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan dolar AS menandai awal yang kuat pada 2024 karena data inflasi dan pasar tenaga kerja membuat sebagian besar para pedagang mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga lebih awal oleh The Fed.

“Gagasan ini diperburuk oleh serangkaian komentar hawkish dari pejabat The Fed selama seminggu terakhir,” ujar Ibrahim dalam riset yang dipublikasi pada Rabu (24/1/2024).

Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini, Kamis (25/1/2024) akan bergerak fluktuatif tetapi ditutup melemah di rentang Rp15.700 hingga Rp15.750 per dolar AS.

Baca Juga :  Vietnam Akhiri Batasan Covid-19 Penerbangan Internasional

Pada Rabu (24/1/2024) rupiah ditutup melemah 76 poin atau 0,49% menuju level Rp15.713 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS melemah sebesar 0,25% ke posisi 103,36.

Sementara itu, mata uang lain di kawasan Asia ditutup bervariasi. Won Korea, semisal, melemah 0,31%, diikuti yen Jepang menguat sebesar 0,39%. Adapun yuan China menguat 0,06%, peso Filipina membukukan pelemahan 0,28%, dan ringgit Malaysia menurun 0,13%.

Ibrahim menyampaikan pelaku pasar saat ini menantikan rilis Indeks Manajer Pembelian (PMI) dan laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang akan dirilis pada Kamis (25/1).

Indikator-indikator tersebut diharapkan memberikan wawasan mengenai kesehatan perekonomian AS dan berpotensi mempengaruhi sikap The Fed terhadap kebijakan suku bunga.

Baca Juga :  Komisi I DPR RI Setujui KASAL Yudo Margono Jadi Panglima TNI

Sementara itu, menurut FedWatch Tool CME, diperkirakan tidak ada perubahan langsung terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan akhir Januari mendatang.

“Tanda ketahanan pertumbuhan ekonomi dan inflasi memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama,” tutur Ibrahim.

Di sisi lain, Bloomberg melaporkan pemerintah China merencanakan paket dukungan besar-besaran sebesar $278 miliar untuk pasar saham lokal. Laporan tersebut memicu optimisme bahwa pemerintah akan memberikan lebih banyak dukungan bagi perekonomian.

Dari dalam negeri, para ekonom optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 diprediksi sebesar 5% dan pada 2024 di kisaran 4,9-5%. Secara rinci, ada 5 sektor yang menjadi pendorong perekonomian pada 2023, yakni sektor industri pengolahan, pertanian, perdagangan, pertambangan, dan konstruksi yang membentuk dua pertiga dari PDB.

Baca Juga :  Hari Ini Rupiah Berpotensi Melemah

Meski demikian, dari lima sektor tersebut, sektor perdagangan mengalami pelemahan. Adapun sektor lainnya masih cukup resilien termasuk pertanian, pertambangan dan manufaktur.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Bagikan :