Harga Emas Hari Ini, Saat Inflasi AS Melambat

Ilustrasi Emas
Ilustrasi Emas

Jakarta|EGINDO.co Harga emas berpeluang menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (15/11/2023) setelah melesat US$16,79 pada perdagangan kemarin, tersengat data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan, sehingga memicu lebih banyak spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin tidak akan mengerek suku bunga.

Pada penutupan perdagangan Selasa (14/11/2023), harga emas (XAUUSD) anaik US$ 16,79 ke level  US$ 1.962,96 per troy ons. Kenaikan tajam tersebut terjadi pasca rilis data inflasi (consumer price index/CPI) yang kembali menunjukkan perlambatan pertumbuhan.

Departemen Tenaga Kerja AS Selasa kemarin melaporkan CPI periode Oktober tumbuh 3,2% year-on-year (YoY) lebih rendah dari bulan sebelumnya 3,7% YoY, dan forecast di Trading Central 3,3% YoY.

Baca Juga :  Sebaran 41.168 Kasus Baru Covid-19 Hari Ini

Kemudian CPI inti yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan dalam perhitungan tumbuh 4% YoY, sesuai dengan forecast Trading Central tetapi lebih rendah dari bulan sebelumnya 4,1% YoY.

Tim Riset Monex Investindo Futures mengatakan, data tersebut membuat pelaku pasar yakin bank sentral AS (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga pada bulan depan.

Bahkan jika melihat perangkat FedWatch, kini ada probabilitas sebesar 2,4% The Fed akan memangkas suku bunga 25 basis poin pada Desember, sementara probabilitas suku bunga dipertahankan 97,6%.

Artinya saat ini tidak ada pelaku pasar yang melihat suku bunga akan kembali dinaikkan. “Hal tersebut menjadi sentimen positif bagi emas dan masih akan terasa pada perdagangan sesi Asia Rabu (15/10/2023), kata Monex dalam riset hariannnya.

Baca Juga :  Harga Emas Batang Antam: Stagnan Di Rp 914.000 per Gram

Sementara itu, Daniel Ghali ahli strategi komoditas TD Securities menyebut data CPI jauh lebih lemah dari perkiraan, akan cukup mendukung logam mulia. Kami memperkirakan penurunan data yang signifikan selama kuartal keempat, yang akan melemahkan dolar dan mendukung emas,” kata Ghali, sebagaimana dikutip Reuters.

“Selama enam bulan ke depan, kami memperkirakan harga emas akan naik menuju US$2.100 per ounce,” tambahnya. Meningkatkan daya tarik emas batangan, indeks dolar turun 1% sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai level terendah lebih dari satu bulan setelah data tersebut dirilis.

Investor juga akan mengawasi data indeks harga produsen AS yang akan dirilis pada hari Rabu. Sementara harga perak di pasar spot naik 2,3% menjadi US$22,81 per ons.

Baca Juga :  Mengenal Apotik Hidup Keluarga

Commerzbank menurunkan perkiraan harga perak pada akhir tahun 2024 menjadi US$29 per ounce dari US$30.

Namun, ia menambahkan bahwa kinerja perak akan tetap mengungguli emas, hal ini disebabkan oleh prospek permintaan industri yang positif dan transformasi ekonomi yang sedang berlangsung menuju netralitas iklim, di mana perak memainkan peran penting.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Bagikan :