Harga Emas Hari Ini 10 Februari 2026, Naik Tipis Seiring Penguatan Permintaan Aset Safe Haven

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada Selasa, 10 Februari 2026, menunjukkan pergerakan stabil dengan kecenderungan menguat tipis dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pembaruan harga yang dirilis pukul 08.30 WIB memperlihatkan bahwa minat investor terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) masih terjaga di tengah dinamika global.

Untuk ukuran paling kecil, emas batangan 0,5 gram dibanderol Rp1.527.000 (Rp1.530.818 setelah pajak). Sementara itu, emas 1 gram berada di level Rp2.954.000 atau Rp2.961.385 setelah PPh 0,25%.

Kenaikan harga juga tercermin pada pecahan yang lebih besar. Emas 5 gram tercatat Rp14.545.000, sedangkan 10 gram menembus Rp29.035.000. Adapun ukuran 100 gram dipasarkan Rp289.612.000, dan ukuran terbesar 1.000 gram mencapai Rp2.894.600.000 (Rp2.901.836.500 setelah pajak).

  • 0,5 gr: Rp1.527.000

  • 1 gr: Rp2.954.000

  • 2 gr: Rp5.848.000

  • 3 gr: Rp8.747.000

  • 5 gr: Rp14.545.000

  • 10 gr: Rp29.035.000

  • 25 gr: Rp72.462.000

  • 50 gr: Rp144.845.000

  • 100 gr: Rp289.612.000

  • 250 gr: Rp723.765.000

  • 500 gr: Rp1.447.320.000

  • 1.000 gr: Rp2.894.600.000

Selain emas reguler, Antam juga memasarkan produk edisi khusus. Gift Series 0,5 gram dijual Rp1.597.000 dan 1 gram Rp3.104.000.

Edisi tematik lain di antaranya:

  • Selamat Idul Fitri 5 gr: Rp15.380.000

  • Imlek 8 gr: Rp24.486.800

  • Imlek 88 gr: Rp266.649.600

  • Batik Seri III 10 gr: Rp30.040.000

  • Batik Seri III 20 gr: Rp59.280.000

Logam mulia lain, yakni perak, juga diperdagangkan stabil. Perak murni 250 gram dipatok Rp13.262.500 (Rp14.721.375 termasuk PPN 11%), sedangkan 500 gram Rp25.725.000 (Rp28.554.750 termasuk pajak).

Untuk seri Heritage:

  • 31,1 gr: Rp2.147.907

  • 186,6 gr: Rp11.765.866

Sejumlah analis menilai pergerakan emas domestik masih dipengaruhi harga emas global dan arah kebijakan suku bunga bank sentral utama. Ketidakpastian geopolitik serta fluktuasi nilai tukar dolar AS turut menjadi faktor penopang.

Seperti dilaporkan Kontan dan Bisnis Indonesia versi daring, permintaan emas fisik di pasar domestik cenderung meningkat pada awal tahun seiring kebutuhan lindung nilai dan diversifikasi portofolio investor ritel. Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati peluang penurunan suku bunga global yang berpotensi mendorong reli harga emas lebih lanjut.

Dengan tren tersebut, emas diperkirakan tetap menjadi instrumen investasi defensif yang diminati, terutama di tengah volatilitas pasar keuangan dan ketidakpastian ekonomi global. (Sn)

Scroll to Top