Harga BBM Non-Subsidi Naik, Dampak Geopolitik Timur Tengah Makin Terasa di Indonesia

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Kenaikan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai merambat ke sektor energi global. Ekonom Wisnu Wibowo menilai situasi ini terutama dipicu oleh potensi pembatasan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu urat nadi pasokan energi dunia.

Menurutnya, gangguan pada jalur strategis tersebut langsung mendorong lonjakan harga minyak mentah global. Dampaknya, negara-negara importir energi seperti Indonesia harus menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya untuk jenis non-subsidi.

“Penyesuaian harga ini merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan, mengingat tekanan biaya impor energi meningkat,” ujarnya.

Sepanjang periode Februari hingga Maret 2026, sejumlah produk BBM non-subsidi di Indonesia mengalami kenaikan harga. Penyesuaian ini dilakukan secara bertahap oleh PT Pertamina (Persero), mengikuti dinamika harga minyak global.

Untuk jenis bensin:

  • Pertamax meningkat dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter
  • Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp12.450 menjadi Rp12.900 per liter
  • Pertamax Turbo mengalami kenaikan dari Rp12.700 menjadi Rp13.100 per liter

Sementara itu, untuk jenis solar non-subsidi:

  • Dexlite naik dari Rp13.250 menjadi Rp14.200 per liter
  • Pertamina Dex meningkat dari Rp13.500 menjadi Rp14.500 per liter

Kenaikan ini mencerminkan tekanan biaya distribusi dan pengadaan energi yang semakin tinggi di tengah ketidakpastian global.

Di sisi lain, pemerintah masih mempertahankan harga BBM bersubsidi untuk menjaga daya beli masyarakat. Pertalite tetap dibanderol Rp10.000 per liter, sementara Solar subsidi bertahan di Rp6.800 per liter.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk intervensi fiskal guna meredam dampak inflasi yang lebih luas, terutama pada sektor transportasi dan logistik.

Sejumlah media nasional turut menyoroti fenomena ini. Kompas.com melaporkan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi erat kaitannya dengan tren kenaikan harga minyak dunia yang dipicu konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok energi.

Sementara itu, CNBC Indonesia menekankan bahwa potensi eskalasi konflik di Timur Tengah bisa mendorong harga minyak menembus level tinggi baru, yang berisiko memperbesar tekanan terhadap APBN jika subsidi energi harus diperluas.

Ke depan, pergerakan harga BBM di Indonesia masih akan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik global dan harga minyak mentah dunia. Jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut, bukan tidak mungkin penyesuaian harga lanjutan akan kembali terjadi.

Namun, ruang kebijakan pemerintah untuk menahan dampak melalui subsidi dan stabilisasi harga akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik, termasuk inflasi dan daya beli masyarakat. (Sn)

Scroll to Top