Hagabeon: Keluarga dan Nilai Hidup

Penulis Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., M.Si (tengah)
Penulis Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., M.Si (tengah)

Oleh: Dr.Wilmar Eliaser Simandjorang

Hagabeon adalah gambaran kehidupan yang berlimpah keturunan dan berkat, dilukiskan dalam ungkapan: “bintang na rumiris, ombun na sumorop, anak pe riris, boru pe antong torop.” Artinya, kehidupan yang diberkati ditandai oleh pertumbuhan generasi yang banyak, baik laki-laki maupun perempuan, seperti bintang yang bertaburan di langit dan embun yang turun menyejukkan bumi.

Makna ini juga tercermin dalam perumpamaan laklak ni singkoru na gantung di ginjang ni pintu, maranak sampulu tolu, marboru sampulu pitu, yang melukiskan harapan akan keluarga yang diberkati dengan keturunan yang melimpah sebagai tanda keberlanjutan kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun, dalam pemahaman yang lebih dalam, hagabeon tidak berhenti pada jumlah keturunan. Ia tidak semata-mata berbicara tentang kuantitas kehidupan, tetapi tentang kualitas tatanan hidup yang dibangun di dalam keluarga. Di sinilah nilai kearifan itu menemukan kedalamannya: bahwa kehidupan tidak hanya dilanjutkan, tetapi juga harus dibentuk.

Ungkapan sisada lulu anak, sisada lulu boru menegaskan prinsip keadilan dan kasih yang tidak membedakan nilai antara anak laki-laki dan perempuan. Setiap anak dipandang sebagai anugerah yang sama, yang di dalamnya melekat tanggung jawab untuk dididik, dibentuk, dan diarahkan dalam kasih yang benar.

Dalam terang iman, keluarga bukan sekadar struktur sosial, tetapi ruang panggilan hidup. Di dalamnya, manusia belajar tentang makna keberadaan: bahwa hidup adalah anugerah yang sekaligus mengandung tanggung jawab. Keluarga menjadi tempat pertama di mana nilai ditanamkan, karakter dibentuk, dan arah hidup ditentukan.

Karena itu, hagabeon dapat dipahami sebagai bagian dari keteraturan hidup yang lebih luas—sebuah pengharapan akan keberlanjutan kehidupan yang tidak hanya biologis, tetapi juga moral dan spiritual. Kehidupan yang terus berlanjut bukan hanya dalam darah dan keturunan, tetapi juga dalam nilai, kesetiaan, dan kebenaran.

Dalam keluarga, manusia belajar bahwa setiap kehidupan adalah titipan yang harus dipelihara. Anak-anak bukan hanya penerus, tetapi juga amanah yang harus dibimbing agar mampu menjalani hidup dengan tanggung jawab. Di sini terlihat bahwa keluarga adalah ruang pembentukan yang tidak tergantikan.

Lebih jauh, keluarga juga menjadi tempat di mana kesetiaan dalam hal-hal kecil diuji. Dari cara mendidik, mengasihi, menegur, dan mengarahkan, terbentuklah dasar bagi kehidupan yang berakar kuat dan bertumbuh dalam kebenaran.

Hagabeon menuntut lebih dari sekadar keberlanjutan hidup—ia menuntut tanggung jawab. Keluarga bukan hanya tempat lahirnya generasi, tetapi tempat lahirnya nilai. Jika kehidupan diteruskan tanpa arah, maka hagabeon kehilangan maknanya. Namun jika setiap generasi dibentuk dalam kasih, keadilan, dan kebenaran, maka di sanalah hagabeon menjadi nyata: bukan hanya hidup yang bertambah, tetapi hidup yang bermakna.@

***

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)

Scroll to Top