Hadiri APEC: Jokowi & Menkeu Ungkap Tantangan Ekonomi Global

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK, Selasa (3/11/2023) di Gedung Bank Indonesia (BI)
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK, Selasa (3/11/2023) di Gedung Bank Indonesia (BI)

Jakarta|EGINDO.co Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati turut hadir mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2023 di Amerika Serikat (AS), Senin (13/11/2023).

Dalam unggahan resminya di Instagram @smindrawati, Bendahara Negara tersebut hadir untuk mewakili Indonesia pada rangkaian Finance Ministers Meeting APEC.

Pada kesempatan tersebut, Sri Mulyani mengungkapkan sederet tantangan ekonomi global yang kian kompleks, dan turut dirasakan oleh Indonesia.

“Salah satunya adalah kondisi ‘higher for longer’ yang semakin merosotkan posisi fiskal beberapa negara,” ucapnya, Senin (13/11/2023).

Bukan hanya itu, dirinya juga menyampaikan di depan 20 menteri keuangan negara anggota APEC, bahwa keluarnya kebijakan-kebijakan terkait isu perubahan iklim dapat memicu crowding out secara global.

Baca Juga :  Taiwan Pesan Pil Covid-19 Pfizer Saat Infeksi Meningkat

Terlebih, kebutuhan pembiayaan yang masif ini berpotensi memberikan tekanan yang besar pada pasar dan berujung pada meningkatnya suku bunga.

Kondisi ini juga berujung pada meningkatnya tekanan terkait pembiayaan pada negara-negara berkembang, dimana Indonesia termasuk di dalamnya.

Seperti halnya Federal Reserve yang menerapkan stance kebijakan higher for longer suku bunga di level 5,25%-5,5%, yang diperkirakan masih terus berlanjut.

“Menghadapi segala dinamika global ini, saya sampaikan bahwa menyambut kebijakan fiskal yang matang dan bijaksana menjadi begitu penting kini. Selain itu, saat-saat penuh tantangan seperti ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan beragam reformasi struktural,” lanjutnya.

Dirinya turut memamerkan bahwa Indonesia sendiri pada 2021 mengesahkan dua undang-undang penting, yakni reformasi perpajakan dan hubungan keuangan pusat dan daerah.

Baca Juga :  Jokowi: Indonesia Punya Banyak Buah Tapi Konsumsinya Rendah

Sri Mulyani terus mengingatkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) APBN terus menjadi katalisator upaya-upaya mempercepat transformasi perekonomian.

Sebagai informasi, konferensi yang digelar di San Fransisco tersebut dihadiri oleh pemimpin dari 21 anggota kawasan Asia dan Pasifik, termasuk Presiden Indonesia Joko Widodo, Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, dan Presiden China Xi Jinping.

Adapun sebelumnya, kondisi global yang kian mencekam tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksi kian melemah. Di mana Dana Moneter Internasional (IMF) yang memangkas proyeksi ekonomi global dari 3% menjadi 2,9% pada 2024.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Bagikan :