Medan | EGINDO.com – Ditengah himpitan ekonomi hari ini, dimana biaya hidup melambung tinggi dan kebutuhan harian kian mencekik, kuliah sering kali menjadi sebuah kemewahan yang mustahil digapai oleh masyarakat kecil. Terlebih, ketika asa itu sempat hampir dipadamkan oleh sebuah sistem pendataan yang salah: anak-anak dari keluarga sangat miskin sempat dikategorikan ke dalam desil tinggi (6 hingga 10), yang artinya mereka dianggap sebagai keluarga sejahtera dan kaya raya.
Kisah getir ini terungkap dalam kegiatan reses serap aspirasi masyarakat yang dilaksanakan di Kampus Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Kecamatan Medan Sunggal, Medan, pada Senin (26/7/2026), yang dihadiri oleh ratusan orang tua mahasiswa dari berbagai daerah di Sumatera Utara.
Kisah tersebut dirasakan langsung oleh Ibu Rita, seorang pedagang sayur di kaki lima pajak Sukaramai, Medan. Setiap harinya, ia harus berbenturan dengan aturan penertiban jalan demi mencari sesuap nasi. “Bagaimana mungkin kami yang jualannya sering kucing-kucingan dengan Satpol PP dikategorikan sebagai orang mampu? Tapi saat anak kami sempat dinyatakan tidak lulus karena desil, kami hanya bisa pasrah. Hingga akhirnya, campur tangan Tuhan hadir lewat perjuangan Bapak dr Sofyan Tan,” ucap Ibu Rita dengan suara bergetar dan air mata yang tulus menetes.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu Sri Mulyarianti, seorang guru honorer di sekolah swasta dengan penghasilan jauh di bawah satu juta rupiah, yang harus membiayai lima orang anak. Di tengah desil ekonomi yang salah sasaran, ia merasa tak berdaya sebelum akhirnya secercah harapan itu datang.

Dibalik kebahagiaan para orang tua yang akhirnya bisa melihat anak-anak mereka mengenakan almamater perguruan tinggi, tersimpan sebuah cerita perjuangan yang tidak mudah. Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, menceritakan bagaimana dirinya harus bekerja keras menjalankan fungsi pengawasan.
Tidak sedikit waktu dan tenaga yang ia curahkan. Sofyan Tan harus menghadiri rapat berulang-ulang hingga larut malam demi menekan dan memastikan Badan Pusat Statistik (BPS) agar bekerja dengan benar dalam menetapkan data desil. “Kami harus berjuang rapat hingga tengah malam agar data kemiskinan ini valid. Negara harus hadir memastikan anak-anak orang miskin tidak kehilangan haknya untuk kuliah hanya karena kesalahan sistem pendataan,” tegas Sofyan Tan dalam sambutannya di hadapan para orang tua mahasiswa.
Suasana haru kian memuncak ketika para orang tua dari berbagai daerah di Sumatra Utara tersebut menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. Mereka bukan hanya sekadar mengidolakan sosok Sofyan Tan, melainkan melihat figur tersebut sebagai perpanjangan tangan Tuhan yang menyelamatkan masa depan keluarga mereka.
Dalam kegiatan tersebut Sofyan Tan menitipkan pesan yang sarat makna kepada ratusan mahasiswa yang beruntung mendapatkan akses pendidikan tinggi ini. Beliau berpesan agar anak-anak tidak main-main, berkomitmen untuk belajar dengan keras, menorehkan prestasi, dan tidak sekadar mengejar uang saku semata.
Pendidikan tinggi bukan sekadar tiket untuk mengubah nasib keluarga dari kemiskinan, tetapi juga wadah mencetak generasi masa depan yang bermartabat untuk membangun bangsa Indonesia tercinta. Dari bilik-bilik rumah petak, ruko sewaan, hingga lapak pedagang kecil di berbagai penjuru Sumatra Utara, sebuah asa kini telah menyala terang, membawa harapan baru dari rahim perjuangan rakyat kecil.@
Rel/fd/timEGINDO.com