Jakarta|EGINDO.co Fenomena astronomi langka berupa gerhana matahari cincin dipastikan terjadi pada 17 Februari 2026, ketika posisi Bulan berada tepat di depan Matahari namun belum sepenuhnya menutup piringan cahaya. Peristiwa ini akan menciptakan pemandangan dramatis berupa “cincin api”, yakni lingkaran cahaya Matahari yang mengelilingi siluet gelap Bulan.
Berdasarkan perhitungan astronomi yang dirilis NASA, jalur utama gerhana atau path of annularity akan terbentang sepanjang sekitar 2.661 mil dengan lebar kurang lebih 383 mil. Jalur tersebut melintasi wilayah terpencil di Antartika, menjadikan kawasan itu sebagai satu-satunya lokasi di Bumi yang dapat menyaksikan cincin api secara utuh.
Durasi keseluruhan fenomena gerhana ini diperkirakan mencapai 271 menit, sementara fase puncak—saat cincin api tampak paling jelas—hanya berlangsung sekitar 2 menit 20 detik. Di luar jalur utama tersebut, pengamat di wilayah lain hanya akan melihat gerhana matahari sebagian, dengan Matahari tampak terpotong sebagian oleh Bulan.
Meski menawarkan keindahan visual yang luar biasa, para ahli mengingatkan bahwa pengamatan gerhana matahari tidak boleh dilakukan dengan mata telanjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta lembaga astronomi internasional menegaskan pentingnya penggunaan kacamata khusus gerhana atau alat observasi berfilter standar untuk mencegah kerusakan permanen pada mata.
Gerhana matahari cincin sendiri merupakan salah satu jenis gerhana yang relatif jarang terlihat dari wilayah berpenghuni. Karena jalurnya kali ini melewati Antartika, fenomena 17 Februari 2026 lebih banyak menjadi perhatian komunitas ilmuwan, peneliti, dan penggemar astronomi global, sekaligus menegaskan betapa dinamis dan presisinya pergerakan benda-benda langit di tata surya. (Sn)