Geopark adalah Territorial Development Model, Bukan Sektor Wisata

Wilmar Eliaser Simandjorang
Wilmar Eliaser Simandjorang

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah geopark semakin populer di Indonesia, terutama dalam konteks pariwisata alam dan destinasi unggulan daerah. Namun, pemahaman yang menyederhanakan geopark sebagai “produk wisata berbasis alam” sesungguhnya berisiko mengaburkan esensi utamanya. Geopark bukanlah sektor wisata. Geopark adalah territorial development model—sebuah pendekatan pembangunan wilayah yang menyatukan konservasi, pendidikan, ekonomi, dan identitas budaya dalam satu kesatuan lanskap hidup.

Konsep ini selaras dengan kerangka UNESCO Global Geoparks yang sejak awal menegaskan tiga pilar utama geopark: konservasi warisan geologi, edukasi kebumian, dan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat. Dalam kerangka ini, pariwisata hanyalah salah satu instrumen, bukan tujuan utama.

Geopark: Dari Destinasi Menuju Sistem Wilayah

Kesalahan umum dalam implementasi geopark adalah menjadikannya sebagai “branding destinasi wisata baru”. Akibatnya, geopark sering direduksi menjadi: spot foto alam, paket wisata geologi, atau festival tahunan.

Padahal, geopark adalah sistem pengelolaan wilayah yang mencakup: geosite (warisan geologi), biosite (keanekaragaman hayati), cultural site (warisan budaya), yang semuanya terintegrasi dalam satu lanskap pembangunan. Dengan kata lain, geopark tidak berdiri di atas pariwisata, tetapi berada di atas tata ruang, ekologi, dan sistem sosial masyarakat.

Mengapa Geopark Bukan Sektor Wisata?

Ada tiga alasan mendasar.

1. Geopark adalah kerangka tata ruang, bukan industri. Pariwisata adalah sektor ekonomi. Geopark adalah cara mengatur hubungan manusia dengan ruang hidupnya. Ia menentukan bagaimana lahan dimanfaatkan, bagaimana warisan bumi dilindungi, dan bagaimana masyarakat hidup di dalamnya. Jika geopark dipersempit menjadi sektor wisata, maka fungsi tata ruangnya hilang.

2. Geopark berakar pada pengetahuan, bukan konsumsi. Geopark dibangun di atas literasi kebumian, riset geologi, mitigasi bencana, dan pendidikan lingkungan. Tujuannya adalah membentuk masyarakat yang memahami “mengapa lanskap ini terbentuk” dan “bagaimana ia harus dijaga”. Wisata bisa menjadi pintu masuk, tetapi pengetahuan adalah fondasinya.

3. Geopark menempatkan masyarakat sebagai subjek, bukan objek ekonomi. Dalam model geopark, masyarakat bukan sekadar penyedia jasa wisata, tetapi: penjaga warisan bumi,

pemilik pengetahuan lokal, dan pelaku utama pembangunan berkelanjutan. Ini berbeda dari logika industri pariwisata yang sering menempatkan masyarakat sebagai pelengkap rantai ekonomi. Geopark sebagai Model Pembangunan Wilayah. Jika dipahami secara utuh, geopark adalah model pembangunan yang mengintegrasikan empat dimensi utama: Ekologi: perlindungan geodiversity, biodiversity, dan ekosistem. Ekonomi: UMKM, ekonomi kreatif, dan geowisata berbasis komunitas. Sosial-budaya: pelestarian identitas lokal dan pengetahuan tradisional. Edukasi: literasi kebumian, riset, dan inovasi.

Model ini menjadikan wilayah bukan sekadar ruang eksploitasi, tetapi ruang pembelajaran dan keberlanjutan. Risiko Salah Memahami Geopark. Ketika geopark hanya diperlakukan sebagai sektor wisata, beberapa risiko muncul: Over-tourism di geosite sensitive. Komersialisasi berlebihan warisan geologi. Hilangnya fungsi edukasi dan riset. Melemahnya peran masyarakat lokal. Konflik tata ruang dan lingkungan. Ironisnya, semua ini justru bertentangan dengan prinsip dasar geopark itu sendiri.

Menuju Paradigma Baru Pembangunan

Sudah saatnya geopark diposisikan secara tepat dalam kebijakan pembangunan daerah maupun nasional: bukan sebagai “produk wisata unggulan”, tetapi sebagai pendekatan pembangunan wilayah berbasis warisan bumi.

Dalam konteks ini, geopark menjadi jembatan antara konservasi dan pembangunan, antara ilmu pengetahuan dan ekonomi lokal, serta antara identitas budaya dan masa depan keberlanjutan. Pendekatan ini juga relevan dengan visi besar Indonesia menuju pembangunan hijau dan inklusif dalam kerangka jangka panjang seperti Indonesia Emas 2045.

Penutup

Geopark bukanlah tempat untuk “dikunjungi”, tetapi sistem untuk “dipahami dan dikelola”. Ia bukan etalase wisata, melainkan cara baru membaca dan membangun wilayah. Karena itu, menyebut geopark sebagai sektor wisata adalah penyederhanaan yang keliru.

Yang lebih tepat: geopark adalah territorial development model—sebuah cara berpikir, cara merencanakan, dan cara membangun masa depan yang berkelanjutan. Atau dengan kata lain: geopark bukan di pinggir pembangunan. Geopark adalah cara baru pembangunan itu sendiri.@

***

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia dan pemerhati masalah lingkungan hidup

Scroll to Top