Jakarta|EGINDO.co Gempa berkekuatan Magnitudo 5,2 yang mengguncang Pantai Utara Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pada Minggu (22/2/2026) pukul 22.35 WIB, berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat setempat, khususnya sektor perikanan, perdagangan, dan transportasi laut. Episenter tercatat berada di laut sekitar 24 kilometer di utara Siberut Utara dengan kedalaman 40 kilometer.
Pelaksana Tugas Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono, menjelaskan gempa tergolong dangkal dan dipicu oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Analisis mekanisme sumber menunjukkan karakter pergerakan naik (thrust fault), yang umum terjadi di zona megathrust barat Sumatera.
Secara spasial, getaran dengan intensitas III MMI dirasakan cukup jelas di wilayah Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, dan Agam. Kondisi ini membuat warga merasakan guncangan seperti kendaraan berat melintas, yang berpotensi menimbulkan jeda sementara pada aktivitas usaha malam hari.
Sementara itu, intensitas II MMI tercatat di Pariaman, Padang, Padang Pariaman, Padang Panjang, serta Bukittinggi. Di daerah tersebut, getaran hanya dirasakan sebagian warga dan tidak menimbulkan gangguan berarti terhadap kegiatan ekonomi.
BMKG memastikan hasil pemodelan tidak menunjukkan potensi tsunami sehingga risiko terhadap jalur distribusi logistik pesisir relatif terkendali. Hingga pukul 23.00 WIB, belum tercatat gempa susulan yang dapat memperbesar dampak ekonomi.
Sejumlah media nasional seperti Kompas.com dan ANTARA juga menyoroti bahwa kepastian tidak adanya potensi tsunami menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas aktivitas perdagangan dan pariwisata di Sumatera Barat, terutama menjelang awal pekan kerja.
Secara umum, gempa ini tidak memicu gangguan signifikan terhadap infrastruktur ekonomi regional. Namun, pelaku usaha di wilayah pesisir tetap diimbau waspada terhadap potensi gempa susulan yang dapat memengaruhi mobilitas dan distribusi barang. (Sn)