Gebrakan Ekonomi Prabowo: Danantara Bersiap Jadi Raksasa BUMN Khusus Ekspor RI

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Roda hilirisasi dan penguatan moneter Indonesia bersiap memasuki babak baru. Pada Kamis, 21 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan strategis berbalut jamuan makan siang bersama jajaran menteri sektor perekonomian dan otoritas moneter di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Agenda utama yang menjadi sorotan dalam diskusi tingkat tinggi ini adalah rencana peluncuran raksasa baru di sektor perdagangan, yakni PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dirancang khusus untuk memacu akselerasi ekspor nasional.

Menyusun Arsitektur BUMN Khusus Ekspor

Langkah pemerintah untuk memperkuat posisi dagang di pasar global kian matang. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, yang kini juga memegang tongkat komando sebagai CEO Danantara Indonesia, hadir untuk menyodorkan cetak biru serta mekanisme operasional lembaga baru tersebut langsung kepada Kepala Negara.

Pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) ini digadang-gadang akan menjadi motor utama dalam mengintegrasikan komoditas hasil hilirisasi agar mampu bersaing lebih agresif di kancah internasional.

Melansir laporan dari CNBC Indonesia, pembentukan Danantara ini diproyeksikan tidak hanya sekadar menjadi agregator ekspor, melainkan juga berfungsi sebagai sovereign wealth fund yang mengonsolidasikan aset-aset besar negara demi mendongkrak investasi masuk.

Sinergi Lintas Sektor dan Pembenahan Data Dagang

Pertemuan ini juga menjadi panggung bagi para pembantu presiden untuk menunjukkan kesiapan data dan evaluasi kebijakan. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, memastikan bahwa seluruh dinamika dan capaian sektor manufaktur domestik telah dirangkum secara komprehensif agar siap dieksekusi menjadi kebijakan strategis kapan pun Presiden memberikan arahan.

Di sisi lain, aspek pengawasan dan kebocoran pendapatan negara menjadi perhatian serius. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, secara khusus membawa hasil kajian mendalam mengenai fraud perdagangan. Fokus utamanya adalah membedah modus manipulasi nilai pada dokumen ekspor-impor, baik berupa penurunan nilai (under-invoicing) maupun penggelembungan nilai (over-invoicing). Pembenahan ini dinilai krusial agar potensi devisa dari aktivitas perdagangan internasional tidak menguap begitu saja.

Menurut analisis ekonomi yang dimuat oleh Harian Kompas, sinkronisasi data perdagangan ini sangat mendesak demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memastikan bahwa insentif fiskal yang digelontorkan pemerintah tepat sasaran serta berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi riil.

Daftar Pejabat Tinggi yang Hadir dalam Pertemuan Istana (Kamis, 21 Mei 2026):

  • Rosan Roeslani (Menteri Investasi dan Hilirisasi / CEO Danantara Indonesia)

  • Agus Gumiwang Kartasasmita (Menteri Perindustrian)

  • Purbaya Yudhi Sadewa (Menteri Keuangan)

  • Budi Santoso (Menteri Perdagangan)

  • Perry Warjiyo (Gubernur Bank Indonesia)

Kehadiran Menteri Perdagangan serta Gubernur Bank Indonesia dalam sela-sela pembahasan ini menegaskan bahwa kebijakan pembentukan BUMN khusus ekspor ini akan dikawal ketat dari hulu hingga hilir—mulai dari regulasi pasar, tata kelola logistik, hingga dampaknya terhadap cadangan devisa dan kebijakan moneter nasional. (Sn)

Scroll to Top