Jakarta|EGINDO.co Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyatakan bahwa foto jurnalistik memiliki kedudukan penting sebagai arsip sejarah bangsa yang tak tergantikan. Menurutnya, satu hasil jepretan mampu menyajikan narasi lengkap yang sulit ditandingi oleh teks panjang.
Pernyataan itu ia sampaikan ketika meresmikan Anugerah Jurnalistik KWP (AJK) V 2025 dan Pameran Foto Warna-Warni Parlemen #15 bertempat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Tema pameran kali ini antara lain “Gen Z, Media Sosial, dan DPR Ideal” serta “Parlemen Berdaulat Indonesia Maju”.
Misbakhun mengambil contoh peristiwa Reformasi 1998 — terutama foto mahasiswa di Gedung DPR — sebagai pengingat bahwa gambar dari masa itu tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Ia mengatakan bahwa karya foto wartawan seringkali menjadi pemicu “kesadaran publik” dan bisa mendorong perubahan besar.
Lebih jauh, Misbakhun menyampaikan bahwa karya jurnalistik dalam lingkungan parlemen bukan sekadar catatan teknis, melainkan bagian dari warisan visual bangsa. Ia bahkan mengaku mengumpulkan sejumlah foto hasil kerja jurnalis DPR untuk dipajang di rumah, kantor, dan di daerah pemilihannya sebagai pengingat akan peristiwa penting politik.
Kepala Biro Pemberitaan DPR, Indra Pahlevi, menyebut bahwa pameran foto seperti ini menjadi ruang refleksi di tengah derasnya berita politik; foto mampu menyampaikan pesan langsung tentang interaksi antara DPR dengan rakyat. Ketua Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP), Ariawan, menegaskan bahwa apresiasi dan publikasi karya jurnalistik harus terus dikembangkan—termasuk membuka ruang bagi televisi agar karya berbasis video juga tampil.
Berita Pendukung dari Media Lain
-
Sejarah Foto Jurnalistik dan Peran Alex & Frans Mendur
Sebagaimana diteliti dalam artikel “Analisis Visual dalam Fotografi Sejarah Kemerdekaan Indonesia Karya Alex dan Frans Mendur” oleh Martinus Eko Prasetyo Kaparang dan William Sanjaya, foto jurnalistik sejak era proklamasi kemerdekaan hingga Jepang, pendudukan Belanda, dan era Reformasi, selalu memainkan peran ganda: sebagai dokumentasi peristiwa dan sebagai identitas budaya visual bangsa. Foto-foto karya Alex dan Frans Mendur bukan hanya merekam momen penting, tetapi juga membangun narasi simbolik yang terus dikenang. -
Fungsi Pameran Foto dalam Publikasi Sejarah Politik
Penelitian oleh F. Azhar dalam kajian “Kajian Foto Jurnalistik Demonstrasi 1998 Karya Julian Sihombing” menyebut bahwa karya foto demonstrasi 1998 oleh Julian Sihombing memberikan identitas visual bagi reformasi, membantu masyarakat mengenang dan memahami konteks politik, sosial, dan budaya pada masa tersebut. Foto-foto tersebut terus menjadi rujukan kolektif untuk memahami perubahan politik di Indonesia.
Sumber: rri.co.id/Sn