Fitch Turunkan Outlook Utang RI ke Negatif, Pemerintah: Status Investment Grade Tetap Aman

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto di acara jumpa pers di Menara Batavia, Jakarta, Kamis (5/3/2025). Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan outlook utang RI dari stabil menjadi negatif.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto di acara jumpa pers di Menara Batavia, Jakarta, Kamis (5/3/2025). Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan outlook utang RI dari stabil menjadi negatif.

Jakarta|EGINDO.co Lembaga pemeringkat kredit global Fitch Ratings menurunkan prospek (outlook) utang pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif. Keputusan ini memicu perhatian pasar karena berkaitan dengan arah kebijakan fiskal pemerintah dalam beberapa tahun ke depan.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa perubahan outlook tersebut tidak mengubah peringkat kredit Indonesia yang masih berada pada level investment grade, sehingga dinilai tetap aman bagi investor global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, perubahan outlook itu tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga kondisi ekonomi global yang sedang mengalami tekanan besar, terutama akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Menurut Airlangga, ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dunia dan memicu ketidakpastian di berbagai negara. Ia menilai kondisi global tersebut turut memengaruhi penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap prospek ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Ekonomi global saat ini memang sedang tertekan. Bukan hanya soal penilaian Fitch, tetapi juga dampak konflik dan perang yang terjadi di berbagai kawasan, terutama Timur Tengah. Situasi ini membuat outlook ekonomi dunia berpotensi mengalami banyak perubahan,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian dalam penilaian Fitch adalah rencana program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproyeksikan membutuhkan anggaran besar dari APBN. Lembaga tersebut menilai program tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap fiskal jika tidak diimbangi dengan peningkatan penerimaan negara.

Meski demikian, pemerintah menilai program tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional.

Sejumlah analis menilai perubahan outlook lebih mencerminkan risiko ke depan, bukan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Media internasional seperti Bloomberg dan Reuters juga melaporkan bahwa meskipun prospek utang berubah menjadi negatif, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.

Beberapa indikator yang masih mendukung stabilitas ekonomi nasional antara lain pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5 persen, rasio utang pemerintah yang masih terkendali terhadap PDB, serta inflasi yang relatif terjaga.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis kepercayaan investor terhadap Indonesia tetap kuat, meskipun tantangan ekonomi global masih cukup besar dalam waktu dekat. (Sn)

Scroll to Top