Oleh: Antonius
Tahun 2026 ini kembali dirayakan perayaan tradisi Festival BakCang yang jatuh pada 19 Juni 2026 yakni minggu ini, yang mana bertepatan juga pada Hari Jumat tanggal hari ke-5 bulan 5 kalender Lunar atau kalender Imlek.
Festival BakCang adalah tradisi yang sudah dilestarikan sejak lama yakni dari zaman dahulu untuk memperingati patriotisme seorang menteri kerajaan, yang putus asa karena sang raja saat itu yang tidak mengindahkan usulan kebijaksanaannya untuk kerajaan mempertahankan kedaulatan kerajaan atas gangguan keamanan dari musuh, yang akibatnya benar mendatangkan bahaya ancaman terhadap keamanan dan kedaulatan kerajaan.
Kisah tenggelamnya Qu Yuan seorang menteri raja yang menjadi legenda sejarah paling terkenal di Tiongkok. Disamping menjadi menteri raja ternyata Qu Yuan juga adalah seorang penyair patriotik besar dari Negara Chu selama periode negara-negara berperang, memperjuangkan hukum yang jelas dan aliansi dengan Qi melawan Qin, tetapi difitnah dan dikucilkan oleh pejabat pengkhianat seperti Jin Shang dan Zi Lan, dan diasingkan dua kali oleh Raja Chu.
Latar belakang dan proses tenggelamnya pada tahun 278 SM, jenderal Qin Bai Qi merebut Yingdu, ibu kota Chu. Melihat negaranya hancur dan tanpa harapan untuk menyelamatkannya, Qu Yuan menulis karya terakhirnya, “Huai Sha,” dan pada hari kelima bulan kelima kalender lunar, ia memeluk sebuah batu dan melompat ke Sungai Miluo di Provinsi Hunan, mengorbankan nyawanya untuk negaranya.

Akhirnya Qu Yuan bunuh diri menceburkan dirinya ke sungai yang berarus deras dan mati ditelan arus tersebut. Setelah kejadian tersebut, rakyat yang sangat menghormati dan mencintai menteri yang setia dan bijaksana itu ramai-ramai datang mencari dan menjaring mayat menteri yang penyair tersebut ke sungai akan tetapi gagal menemukannya.
Mereka lantas pulang dan ramai-ramai membuat kue BakCang yang isinya terbuat dari bahan masakan berdaging enak dengan ramuan lainnya, lantas mereka membawa BakCang dan berdayung dengan sampan di sepanjang sungai tersebut untuk menceburkan atau melemparkan BakCang ke dalam air sungai agar dimakan ikan-ikan yang ada dalam sungai dengan harapan ikannya tidak memakan mayat menteri tersebut.
Alkisah, aktifitas yang sangat bersejarah itu akhirnya berubah wujudnya sebagai tradisi yang dilestarikan sampai kini. muncullah aktifitas lomba perahu naga, lomba berenang dan makan BakCang. Di negara-negara atau di lingkungan luar Tiongkok yang masih kental tradisi lengkap dengan aktifitasnya masih banyak yang melestarikan lomba dayung perahu naga, lomba renang.
Asal usul adat rakyat dimana legenda mengatakan bahwa ketika penduduk setempat mengetahui tentang tenggelamnya Qu Yuan, mereka bergegas untuk menjemputnya dengan perahu untuk mencegah ikan dan udang di sungai memakan tubuhnya, mereka juga membungkus nasi dengan daun bambu dan melemparkannya ke sungai. Tindakan ini kemudian berkembang menjadi kebiasaan tradisional “balap perahu naga” dan “makan zongzi” selama Festival Perahu Naga.
Tentang kue BakCang terkait erat dengan kehidupan dan kontribusi sastrawan Qu Yuan. Kini kue BakCang bagi yang Muslim biasanya memakan BakCang yang halal yakni dengan isi daging non babi, atau yang terbuat dari beras ketan, dimakan dengan pakai sri kaya atau gula merah. Masyarakat Tionghoa yang Gen y & z di perantauan luar Tiongkok banyak yang sudah tidak mengetahui asal usul sejarah tradisi makan BakCang, harusnya tetap melestarikannya sebagai tradisi dalam makan BakCang yang rasanya enak dan gurih.@
***
Penulis adalah pemerhati masalah budaya Tionghoa, warga Medan Polonia Sumatera Utara