Jakarta | EGINDO.com – Empat puluh tahun Kota Mandiri Bumi Serpong Damai (BSD City) mencerminkan proses panjang perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan sebuah kota, bukan sekadar pengembangan kawasan hunian. Di tengah menguatnya kembali wacana pembangunan kota baru, BSD City dinilai menjadi rujukan penting. The HUD Institute melakukan kunjungan ke BSD City untuk mempelajari praktik perencanaan dan pengelolaan salah satu kota mandiri terbesar di Indonesia. Kunjungan ini menjadi bagian dari refleksi atas pengalaman pembangunan kota berkelanjutan di Tanah Air.
Ketua Umum The HUD Institute, Zulfi Syarif Koto, menilai BSD City merupakan pionir kota mandiri yang sejak awal dirancang dengan pendekatan tata ruang makro dan terintegrasi dengan wilayah sekitarnya. “BSD City tidak dibangun sebagai proyek properti biasa, tetapi sebagai bagian dari sistem perkotaan Jabotabek melalui rencana tata ruang regional. Sejak awal ada kesadaran bahwa kota harus terhubung dengan kawasan sekitarnya,” ujar Zulfi dalam keterangannya yang dilansir EGIND.com pada Senin (19/1/2025).
Disorotinya banyak kota baru saat ini berkembang tanpa kerangka perencanaan regional yang kuat, sehingga memicu persoalan kemacetan, ketimpangan akses layanan, hingga fragmentasi sosial. Pada fase awal, BSD City tidak hanya menghadirkan hunian, tetapi juga fasilitas sosial seperti sekolah, pasar tradisional, terminal angkutan, kawasan industri, dan ruang terbuka hijau. Menurut Zulfi, pendekatan ini menunjukkan pemahaman bahwa kota adalah ruang hidup, bukan sekadar kumpulan bangunan.
Zulfi menilai pembangunan kota membutuhkan ketahanan finansial jangka panjang, bukan hanya strategi penjualan, penting juga fleksibilitas perencanaan. Rencana tapak yang terlalu besar dan kaku dinilai sulit beradaptasi dengan perubahan selera pasar dan daya beli masyarakat.
Katanya kebijakan penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) serta pengelolaan lingkungan berbasis swadaya warga melalui RT/RW sebagai inovasi sosial. Keterlibatan warga bukan sekadar soal teknis, melainkan membangun rasa memiliki, sehingga kota diperlakukan sebagai rumah bersama, bukan sekadar produk. Pendekatan ini dinilai mampu menekan biaya pengelolaan sekaligus memperkuat kohesi sosial.
Dinilainya BSD City kian relevan di tengah kembali masifnya pembangunan perumahan. Pemerintah diingatkan agar tidak mengulang pola lama membangun rumah tanpa membangun kota, karena kawasan tanpa ekosistem sosial hanya akan menjadi kawasan tidur. Pembangunan kota adalah proses jangka panjang, di mana keberlanjutan sangat ditentukan oleh tata kelola, bukan hanya desain awal.@
Rel/timEGINDO.com