Emiten Pulp and Paper Ternyata Berpeluang Baik Tahun 2024

Asia Pulp & Paper (APP) Sinarmas
Pulp produk APP Sinarmas

Jakarta | EGINDO.co – Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan bahwa industri kertas telah mencatat produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) senilai Rp 21,04 triliun pada kuartal II-2023 atau naik 4,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari paparan BPS tentang emiten Pulp and Paper sejalan dengan para analis yang melihat peluang baik industri pulp dan kertas tahun 2024 mendatang. Prospek kertas pada 2024 masih cukup menarik, seiring dengan peningkatan permintaan kertas di dalam negeri maupun global.

Sedangkan kini emiten kertas juga mulai memasuki untuk mengalihkan kemasan berbahan kertas menggantikan produk plastik, mengikuti tren e-commerce dan kebijakan BPOM. Hal itu menjadi sentimen yang mendorong kinerja emiten kertas di 2024 yaitu pemulihan ekonomi global, peningkatan mobilitas dan aktivitas ekonomi, serta pergeseran tren ke arah digitalisasi.

Baca Juga :  Ukraina Terima Tank Abrams Dari AS Pada Musim Gugur

Hal yang menarik, Trimegah Sekuritas memproyeksikan harga pulp and paper pada setahun penuh 2024 sebesar US$ 610 per ton. Pada bulan Mei 2023 lalu, harga pulp kayu keras di Tiongkok mengalami penurunan yang sangat karena adanya kekhawatiran terhadap rendahnya permintaan pulp and paper. Dalam kurun waktu dua bulan, harga anjlok sebesar 33%, mencapai US$ 480 per ton.

Kepala Riset Trimegah Sekuritas Willinoy Sitorus mengatakan, telah terjadi pemulihan yang stabil pada harga pulp and paper yang saat ini berada pada US$ 635 per ton. Willinoy Sitorus mengakui para analisis menilai bahwa harga di bawah US$ 600 per ton tidak berkelanjutan, karena hal ini berarti sekitar 25% produsen pulp and paper mengalami kerugian.

Sementara itu sejumlah industry pulp dan kertas masih wait and see termasuk saham emiten kertas grup Sinarmas yakni emiten INKP dan TKIM dimana seperti yang diketahui emiten produsen kertas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) yang membukukan penurunan laba bersih hingga kuartal III-2023.

Baca Juga :  Aksi Donor Darah, Peringati 100 Tahun Eka Tjipta Widjaja

Secara rinci pada Per 30 September 2023, laba bersih INKP turun hingga 50% menjadi US$ 320,88 juta. Jika dibandingkan periode yang sama sebelumnya, laba bersih INKP sebesar US$ 647,18 juta. Turunnya laba bersih INKP disebabkan oleh pendapatan sebesar 10% menjadi US$ 2,68 miliar padakuartal III-2023. Pada kuartal III-2022, pendapatan INKP sebesar US$ 2,99 miliar.

Sedangkan TKIM juga membukukan penurunan laba bersih 61,15% menjadi US$ 134,08 juta hingga kuartal III-2023. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba bersih TKIM sebesar US$ 345,18 juta. Pendapatan bersih TKIM juga menyusut sebanyak 8,21%, per 30 September 2023, pendapatan bersih TKIM sebesar US$ 812,63 juta. Pada kuartal III-2022, TKIM membukukan pendapatan bersih sebesar US$ 885,38 juta.

Baca Juga :  APP Group dan Garuda Indonesia Perkuat Pembangunan Rendah Karbon

Untuk itu terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi, seperti kenaikan biaya bahan baku dan harga energi, penurunan harga komoditas kraft pulp, serta potensi risiko dari tekanan global. INKP dan TKIM saat ini dinilai undervalued atau murah, dengan Price to Earning Ratio (PER) masing-masing sebesar 2,95 kali dan 3,04 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata PER selama 5 tahunnya di 8,38 kali dan 12,45 kali. Namun, pergerakan saham TKIM belum mampu menembus cluster MA20 dan MA60, posisinya saat ini masih berada di fase downtrendnya.@

Bs/timEGINDO.co

 

Bagikan :