Emas Cetak Rekor Tertinggi, Didukung Kekhawatiran Kredit dan Ketegangan Geopolitik

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Harga emas terus menguat pada perdagangan Jumat (17/10/2025), setelah sebelumnya sempat menembus level tertinggi sepanjang masa. Dorongan utama datang dari kekhawatiran atas memburuknya kualitas kredit global serta meningkatnya friksi geopolitik antara Amerika Serikat dan China, yang mendorong investor berpaling ke aset aman seperti logam mulia.

Menurut data Bloomberg, harga emas sempat melonjak 1,2 % ke posisi US$4.379,96 per troy ounce, mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak 2020. Di pagi hari, pasar spot mencatat penguatan sebesar 0,73 % ke US$4.358 per troy ounce, sementara kontrak emas berjangka di Comex AS naik 1,51 % menjadi US$4.369,6 per troy ounce.

Lonjakan harga emas ini juga turut memicu rekor baru pada logam mulia lainnya. Perak sempat menembus puncak US$54,38 per troy ounce sebelum sedikit terkoreksi, seiring meningkatnya aliran modal ke instrumen safe-haven.

Salah satu pemicu utama adalah pengumuman dua bank regional di AS yang menghadapi masalah kredit yang diduga terkait praktik penipuan. Berita semacam ini semakin memperkuat ekspektasi bahwa sektor keuangan AS mungkin berada di bawah tekanan, mendorong investor mencari perlindungan dalam emas.

Investor kini semakin memperkirakan bahwa The Fed akan melancarkan pemangkasan suku bunga cukup agresif sebelum tahun berakhir. Ketua The Fed, Jerome Powell, telah memberi indikasi bahwa pemangkasan 25 basis poin bisa dilakukan dalam waktu dekat. Penundaan sejumlah rilis data ekonomi AS akibat sebagian kegiatan pemerintahan yang terhenti (government shutdown) membuat pasar menunggu sinyal pelemahan ekonomi yang akan mendukung langkah pemangkasan suku bunga.

Di sisi geopolitik, ketegangan AS–China kembali menghangat setelah Menteri Perdagangan China, Wang Wentao, menuding AS sebagai penyebab eskalasi terbaru dan memperingatkan risiko pemisahan ekonomi bilateral. Sebelumnya, Departemen Perdagangan AS juga memperluas sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan entitas China yang masuk dalam daftar hitam.

Sepanjang tahun ini, harga emas telah meroket lebih dari 65 %, didorong oleh pembelian agresif oleh bank sentral, arus dana masuk ke ETF berbasis emas, dan meningkatnya permintaan aset aman di tengah dinamika geopolitik, defisit fiskal yang melebar, serta keraguan atas independensi kebijakan The Fed.

Menurut laporan dari Reuters, harga emas spot AS sempat menembus US$4.312,00 per ounce, sedangkan kontrak berjangka untuk pengiriman Desember melesat ke US$4.328,70 — menandai reli tajam dipicu oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga AS dan konflik dagang AS–China.

Dengan momentum yang demikian kuat, pasar akan memantau dengan seksama pernyataan The Fed selanjutnya serta data ekonomi AS yang bakal dirilis — yang bisa menjadi penentu arah lanjutan harga emas.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Scroll to Top