Jakarta|EGINDO.co Kinerja ekspor Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan tren penguatan, terutama ditopang oleh lonjakan pengiriman crude palm oil (CPO) dan produk turunannya, serta komoditas besi dan baja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kedua sektor tersebut menjadi kontributor utama ekspor nonmigas nasional.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan nilai ekspor CPO dan turunannya secara kumulatif pada periode Januari–Desember 2025 mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 21,83%. Nilainya meningkat dari US$20,05 miliar pada tahun sebelumnya menjadi US$24,42 miliar.
“Komoditas berbasis kelapa sawit masih menunjukkan daya saing kuat di pasar global, seiring permintaan yang tetap solid dari negara-negara mitra utama,” ujar Ateng dalam Rilis Berita Resmi BPS, Senin (2/2/2026).
Sementara itu, dari sisi industri logam dasar, ekspor besi dan baja juga mencatatkan kinerja positif. Dari sisi volume, ekspor komoditas ini meningkat 11,19%, dari 20,92 juta ton menjadi 23,26 juta ton sepanjang 2025. Besi dan baja menyumbang 10,37% terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.
Ateng menegaskan bahwa kedua komoditas tersebut menjadi andalan ekspor nasional. “Ada dua komoditas unggulan yang sama-sama mencatat kenaikan, yakni besi dan baja, serta CPO dan produk turunannya,” jelasnya.
Penguatan ekspor besi dan baja sejalan dengan berkembangnya industri hilirisasi mineral di dalam negeri. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa kebijakan larangan ekspor bahan mentah dan dorongan pembangunan smelter membuat produk baja Indonesia semakin kompetitif di pasar Asia, khususnya di Tiongkok dan kawasan Asia Tenggara.
Hal senada juga disampaikan Kontan.co.id, yang menilai kenaikan ekspor CPO tidak lepas dari stabilnya harga global minyak nabati serta meningkatnya permintaan untuk kebutuhan pangan dan energi terbarukan, termasuk biodiesel.
Secara keseluruhan, peningkatan ekspor CPO serta besi dan baja memberikan sinyal positif bagi kinerja perdagangan Indonesia, sekaligus memperkuat struktur ekspor yang semakin bertumpu pada produk bernilai tambah dan hasil hilirisasi industri. (Sn)