Ekonomi Tumbuh Terbatas, Dunia Usaha Tahan Ekspansi dan Rekrutmen

file_00000000792c71fa8e1259dab69dd199

Jakarta|EGINDO.co Aktivitas dunia usaha di Indonesia pada kuartal I/2026 menunjukkan tanda-tanda perlambatan meskipun masih berada di zona ekspansi. Data Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dari Bank Indonesia mencatat saldo bersih tertimbang (SBT) sebesar 10,11%, turun dibandingkan kuartal IV/2025 yang mencapai 10,61%. Penurunan ini menandai tren pelemahan yang telah berlangsung selama tiga kuartal berturut-turut.

Pada Jumat, 17 April 2026, para ekonom menyoroti bahwa perlambatan ini terjadi di tengah momentum awal tahun yang biasanya ditopang konsumsi musiman. Namun, realisasi di lapangan menunjukkan permintaan belum merata.

Di sisi lain, sektor manufaktur masih mencatatkan ekspansi. Indeks PMI manufaktur berada di level 52,03%, sedikit lebih tinggi dari periode sebelumnya. Namun, peningkatan produksi tersebut belum mampu mendorong penyerapan tenaga kerja. Indeks tenaga kerja justru tetap berada di bawah ambang ekspansi, yakni 48,76%, melanjutkan tren kontraksi sejak pertengahan 2025.

Kondisi ini mencerminkan bahwa pertumbuhan produksi lebih banyak ditopang oleh efisiensi dan optimalisasi kapasitas, bukan oleh ekspansi usaha yang agresif. Sejumlah ekonom menilai, lemahnya daya beli masyarakat—terutama kelompok menengah bawah—menjadi faktor utama yang menahan laju permintaan domestik.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., Josua Pardede, menilai pelaku usaha kini cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi. Menurutnya, ketidakpastian global, tekanan biaya produksi, serta penjualan yang belum stabil membuat perusahaan lebih memilih menjaga likuiditas dan menekan biaya operasional.

Pandangan serupa disampaikan oleh Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia. Ia menilai bahwa ekspansi yang tercermin dalam PMI saat ini lebih merupakan hasil dari peningkatan produktivitas, bukan ekspansi kapasitas atau pembukaan lapangan kerja baru. “Ekonomi masih tumbuh, tetapi dorongannya terbatas. Produksi meningkat, namun belum mampu menciptakan banyak pekerjaan,” ujarnya.

Selain faktor domestik, tekanan eksternal juga turut mempengaruhi. Sejumlah laporan dari Reuters dan Bloomberg menyoroti meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok yang berdampak pada biaya produksi dan distribusi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dari sisi pelaku usaha, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pemerintah untuk mengambil langkah konkret guna menjaga momentum pertumbuhan. Wakil Ketua Umum Kadin, Sarman Simanjorang, menekankan pentingnya memperluas program padat karya, meningkatkan efektivitas bantuan sosial, serta menjaga stabilitas daya beli masyarakat.

Menurutnya, tanpa intervensi yang tepat, dunia usaha akan tetap berada dalam posisi defensif dan enggan melakukan ekspansi yang berisiko, termasuk dalam hal perekrutan tenaga kerja.

Secara keseluruhan, kondisi ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih menunjukkan pertumbuhan, namun dengan kualitas yang belum optimal. Aktivitas usaha tetap meningkat, tetapi dengan laju yang melambat, sementara penciptaan lapangan kerja belum mampu mengikuti peningkatan produksi. (Sn)

Scroll to Top