Jakarta|EGINDO.co Indonesia menatap tahun ini dengan keyakinan mampu mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%, di tengah bayang-bayang perlambatan ekonomi dunia dan menguatnya tren proteksionisme perdagangan. Pemerintah menilai fundamental domestik masih cukup kuat untuk menopang ekspansi, meski tekanan eksternal diperkirakan tetap membayangi kinerja ekspor nasional.
Perlambatan aktivitas ekonomi di Tiongkok menjadi salah satu faktor risiko utama. Sebagai mitra dagang terbesar Indonesia, penurunan permintaan dari negara tersebut berpotensi menekan ekspor komoditas unggulan, mulai dari batu bara hingga produk hilirisasi mineral. Di saat yang sama, kebijakan proteksionisme di sejumlah negara maju juga dinilai dapat membatasi akses pasar dan meningkatkan hambatan tarif maupun nontarif.
Untuk meredam dampak tersebut, pemerintah mendorong strategi diversifikasi pasar ekspor. Salah satu tujuan yang dipandang prospektif adalah India, yang permintaan energinya terus meningkat seiring pertumbuhan industri dan populasi. Selain India, perluasan pasar ke kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan juga terus dipacu guna mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.
Dari sisi domestik, mesin pertumbuhan dinilai masih terjaga. Konsumsi rumah tangga—yang selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto—tetap solid, ditopang stabilitas inflasi dan berbagai stimulus fiskal. Pemerintah juga mengandalkan belanja negara, termasuk proyek infrastruktur dan program perlindungan sosial, untuk menjaga daya beli serta aktivitas ekonomi di daerah.
Sejumlah media nasional turut menyoroti optimisme tersebut. Kompas menilai ketahanan konsumsi domestik menjadi bantalan utama menghadapi gejolak global, sementara Bisnis Indonesia menekankan pentingnya percepatan investasi dan ekspansi industri bernilai tambah agar target pertumbuhan dapat tercapai.
Meski demikian, tantangan struktural masih membayangi. Penciptaan lapangan kerja berkualitas dinilai belum secepat pertumbuhan angkatan kerja baru. Di sisi lain, realisasi investasi swasta masih menghadapi kendala, mulai dari kepastian regulasi, pembiayaan, hingga dinamika permintaan global.
Dengan kombinasi penguatan pasar domestik, perluasan mitra dagang, serta reformasi iklim investasi, pemerintah berharap momentum pertumbuhan tetap terjaga. Optimisme tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa ekonomi Indonesia berupaya tetap resilien di tengah lanskap global yang kian tidak pasti. (Sn)