Ekonomi Digital RI Diproyeksi Melonjak, Pemerintah Percepat Penguatan Industri Chip

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Pemerintah optimistis ekonomi digital Indonesia akan tumbuh lebih besar seiring percepatan integrasi digital di kawasan Asia Tenggara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan implementasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) berpotensi mendongkrak nilai ekonomi digital nasional hingga mencapai 600 miliar dolar AS atau sekitar Rp10.645 triliun.

Menurut Airlangga, saat ini ekonomi digital Indonesia diperkirakan berada di kisaran 400 miliar dolar AS pada 2030. Namun, melalui kerja sama digital antarnegara ASEAN, potensi tersebut diyakini dapat meningkat signifikan. Kesepakatan DEFA sendiri dirancang untuk memperkuat perdagangan digital, konektivitas lintas batas, tata kelola data, serta pengembangan inovasi dan teknologi di kawasan Asia Tenggara.

“Dengan DEFA ASEAN yang rencananya akan kita tandatangani tahun ini, maka potensi ekonomi digital Indonesia bisa naik menjadi 600 miliar dolar AS,” ujar Airlangga usai membuka program “Pelatihan Semikonduktor Bersama Arm untuk Talenta Indonesia” di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Sejumlah media nasional juga menyoroti percepatan pembentukan DEFA ASEAN sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi kawasan sebagai pusat ekonomi digital dunia. Liputan6.com melaporkan ASEAN menargetkan penandatanganan penuh DEFA pada November 2026, sementara ANTARA News menyebut seluruh negara anggota ASEAN telah berkomitmen menyelesaikan substansi perundingan tahun ini.

Di sisi lain, pemerintah turut mempercepat pengembangan industri semikonduktor nasional sebagai fondasi utama transformasi digital. Airlangga menilai kebutuhan chip global akan terus meningkat seiring berkembangnya kecerdasan buatan (AI), pusat data, otomotif modern, perangkat elektronik, hingga internet of things (IoT).

Sebagai langkah awal, pemerintah bersama Arm Ltd. dan Danantara menggelar pelatihan semikonduktor yang diikuti 1.000 peserta terpilih dari sekitar 4.500 pendaftar. Program yang berlangsung pada 20–22 Mei 2026 itu menjadi bagian dari target pemerintah mencetak 15.000 engineer semikonduktor dalam tiga tahun ke depan.

Airlangga menilai Indonesia memiliki modal strategis untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok industri chip global, mulai dari besarnya pasar domestik, pertumbuhan ekonomi digital yang kuat, hingga ketersediaan mineral penting yang dibutuhkan industri semikonduktor. Saat ini Indonesia mulai memperkuat sektor assembly, testing, dan packaging sebagai tahap awal pengembangan industri chip nasional. (Sn)

Scroll to Top