Dubes Indonesia untuk Kanada: ICA-CEPA Tidak Hanya Sekadar Soal Liberalisasi Tarif Perdagangan

Acara Strategic Forum Indonesia-Canada CEPA (ICA-CEPA) dan Indonesia-European Union CEPA (IEU-CEPA) di Auditorium Kemendag, Jakarta. (Foto: EGINDO/PT)
Acara Strategic Forum Indonesia-Canada CEPA (ICA-CEPA) dan Indonesia-European Union CEPA (IEU-CEPA) di Auditorium Kemendag, Jakarta. (Foto: EGINDO/PT)

Jakarta | EGINDO.com – Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Kanada, Muhsin Syihab dalam Strategic Forum di Auditorium Kementerian Perdagangan, pada Senin (29/9/2025) mengatakan ICA-CEPA tidak hanya sekadar soal liberalisasi tarif perdagangan, tetapi mencakup berbagai hal termasuk investasi, energi baru terbarukan, hingga teknologi informasi. Untuk itu, diplomasi menjadi kunci dalam mewujudkan isi perjanjian.

Menurutnya, komponen diplomasi menjadi cukup penting dan krusial. Tanpa sinergi pemerintah, pelaku bisnis, maupun akademisi, apa yang tertulis di atas kertas tidak akan efektif,” kata Muhsin yang hadir secara daring dalam Strategic Forum di Auditorium Kementerian Perdagangan.

Selain perdagangan barang dan jasa, kerja sama ini diperkuat dengan berbagai nota kesepahaman termasuk mengenai critical minerals serta aspek sanitary dan phytosanitary. Muhsin berpandangan bahwa penguatan kerangka hukum dan diplomasi ini penting dalam memastikan ketahanan pangan dan keberlanjutan kerja sama. Ditambah dengan melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia agar dapat memanfaatkan peluang pasar Kanada.

Domtar holding company diwakili Ir. Paulus Tamie MM (paling kanan) hadir pada acara Strategic Forum ICA-CEPA dan IEU-CEPA di Auditorium Kemendag, Jakarta. (Foto: EGINDO/ist)

Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) resmi ditandatangani dengan penuh harapan untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Kesepakatan ini diyakini tidak hanya membuka akses pasar, tetapi juga menjadi instrumen diplomasi ekonomi yang dapat mendorong transformasi ekonomi Indonesia. “Kami berupaya memfasilitasi UMKM kita, pedagang-pedagang kita, agar bisa satu frekuensi dengan mitra Kanada,” katanya.

Meski demikian peluang besar terbuka, tantangan implementasi tetap ada. Ketua Komite Tetap Perjanjian Internasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Mufti Hamka St Rajo Basa menambahkan, pasar Kanada adalah pasar yang matang (mature market) dengan konsumen yang menuntut kualitas berkelanjutan.

Menurut Mufti konsumen di Indonesia termasuk emotional consumers, barang yang tidak laku bisa jadi laku. “Kalau di Kanada beda, mereka go for sustainable quality products. Jadi kita harus mengikuti tren pasar mereka,” kata Mufti.

Katanya keberhasilan pengusaha Indonesia tidak semata bergantung pada regulasi, melainkan juga pada trust dan etika bisnis. Apalagi, praktik bisnis online kerap menggoda pelaku usaha untuk menurunkan kualitas barang atau mengubah spesifikasi dari yang dijanjikan. Hal itu sebenarnya masalah etika bisnis. Deliver sesuai janji adalah hal yang paling penting.@

Bs/fd/timEGINDO.com

Scroll to Top