Jakarta | EGINDO.co – Dewan Sawit Indonesia (DSI) optimis larangan ekspor Sawit bakal dicabut Mei 2022 ini. “Asosiasi sawit yang bernaung di bawah Dewan Sawit Indonesia (DSI) mendukung penuh kebijakan ini. Kebijakan ini merupakan satu diantara 3 kebijakan sawit yang ditetapkan pemerintah sejak 1978-2022,” kata Sahat Sinaga, Plt Ketua Umum Dewan Sawit Indonesia, dalam keterangan persnya belum ini.
DSI merupakan induk dari sembilan asosiasi sawit yaitu Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Asosiasi Industri Minyak Sawit Indonesia (AIMMI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Asosiasi Sawitku Masa Depanku (Samade), Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), dan Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI).
Katanya asosiasi dilibatkan dalam pembahasan kebijakan larangan ekspor sawit dan minyak goreng. Sahat menjelaskan sudah ada pertemuan antara asosasi bersama pemerintah untuk bersama-sama menyelesaikan masalah minyak goreng.
Pertemuan itu dihadiri Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Perindustrian, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Bea Cukai, Bulog, Satuan Petugas (Satgas) Pangan, dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Dalam pertemuan tersebut, sudah ada 5 strategi untuk mengatasi persoalan minyak goreng di dalam negeri, termasuk salah satunya larangan ekspor terhadap RBD Olein dengan 3 kode Harmonized System (HS), yaitu 15.11.90.36, 15.11.90.37, dan 15.11.90.39. Sementara itu, ekspor atas CPO maupun produk-produk turunan lainnya tidak dilarang.
Walaupunn produk RBD Olein dilarang, refineri masih dapat menjual produk sampingan lain yaitu Stearin. Selisih harga Stearin juga lebih tinggi sekitar US$ 205 per ton dibandingkan harga CPO. Harga ekspor PFAD, menurut catatan Sahat, hanya lebih besar US$ 164 per ton dibanding CPO.
DSI optimis suplai minyak goreng curah subsidi sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp 14.000 per liter akan membanjiri pasar pada Mei 2022 atau setelah Lebaran.@
Bs/TimEGINDO.co