Jakarta | EGINDO.com – Yayasan Taman Belajar Nusantara (TB Nusantara) bersama tiga mahasiswa dan seorang guru honorer menggugat adanya Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan Badan Gizi Nasional ke Mahkamah Konstitusi (MK) pada Senin (26/1/2026) lalu. Pengamat sosial, ekonomi kemasyarakatan Dr. Rusli Tan, SH, MM kepada EGINDO.com pada Sabtu (31/1/2026) di Jakarta mengatakan anggaran MBG berikan saja kepada orangtua murid karena hal itu lebih tepat.
Rusli Tan, SH mendukung adanya gugatan terhadap anggaran MBG ke Mahkamah Konstitusi karena dalam realisasi program Makan Bergizi Gratis terus menuai sorotan dari berbagai pihak dan berbagai aspek dari pelaksanaan MBG tersebut termasuk terus terjadi korban keracunan siswa mengkonsumsi MBG yang menandakan belum dikelola secara professional.
Menurut dugaan belum dikelola secara professional MBG membuat dampak nyata banyaknya siswa yang keracunan. Bila dikelola secara professional MBG maka tidak akan muncul kasus keracunan makanan. Melihat menu yang disajikan juga bila dilihat dari anggaran yang katanya Rp.15.000, per siswa tidak sesuai dengan harga yang dianggarkan, bisajadi banyak anggaran yang bocor sehingga menu MBG yang sampai kepada siswa tidak sesuai.
“Untuk itu anak-anak yang menerima MBG diganti dengan uang saja dan ditranfer tunai saja agar tanpa biaya masak dan transportasi yang mahal. Kemudian uang itu bisa digunakan untuk memasak makanan oleh orangtua atau ibu para siswa dengan makanan yang disukai anak-anaknya,” kata Rusli Tan menyarankan.
Rusli Tan menilai selama dilaksanakannya program MBG juga tidak memberikan effect nyata kepada para petani setempat karena pengelola MBG itu bukan berada pada daerah murid-murid berada. Hal itu juga menyebabkan makanan yang disajika tidak terlihat segar dan sering terjadi keracunan makanan kepada siswa. Bila ditangani oleh orangtua siswa akan menyajikan makanan yang segar mulai dari sayur-mayur dan dagingnya. Untuk itu para pengelola, para menteri terkait untuk mengkaji ulang. “Semoga menteri menteri kita tegas dan kreatif,” katanya.
Menurutnya, anggaran yang dikucurkan dari uang pajak rakyat untuk MBG itu sangat besar menyedot APBN tapi belum mampu memberikan kebutuhan gizi anak dan yang terjadi banyak keracunan makanan. “Bila tidak tercapai maka baiknya uang Rp 15.000 per porsi, per siswa itu diberikan saja kepada si anak dengan perhitungan Rp.15.000,- dikali 5 kali atau 5 hari sekolah dan kemudian dikali 4 atau 4 minggu maka junlah uang tersebut ditransfer langsung kepada rekening para murid sekolah maka orangtua murid akan terbantu dalam memenuhi gizi anak-anaknya,” kata Rusli Tan.
Dengan uang tersebut orang tua anak akan memberikan gizi yang terbaik kepada anaknya. Tidak mungkin orang tua tidak akan memberikan makanan bergizi yang terbaik kepada anaknya bila uangnya ada.
Ditegaskannya kondisi ekonomi keluarga yang sulit sekarang ini dimana lapangan kerja yang sangat dibutuhkan rakyat belum memadai maka agar rakyat memiliki penghasilan untuk masak makanan dari dana MBG itu bisa dilaksanakan orangtua untuk anak-anaknya sendiri atau untuk sekeluarganya. Tentunya para ibu rumah tangga akan memberikan 1 telur rebus untuk anak-anaknya setiap hari agar mata dan otak si anak sebagai asupan gizi bila memang ada dana untuk itu maka dana MBG diberikan saja kepada para orangtuanya.@
Fd/timEGINDO.com